Langkah Cahaya

Langkah Cahaya

  • WpView
    Reads 223
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 18, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Waktu terus berlalu, ku habiskan hanya dengan diam membisu, menatap cahaya sebening permata yang menyilaukan pandangan mata, membuatku tak mampu untuk mengucap kata. Namaku Cahaya putri mentari, aku lahir dari keluarga yang kurang berada Aku hidup di sebuah desa yang jauh dari kata polusi. Aku mempunyai satu cita-cita yang menurutku amat berharga, cita-citaku adalah aku ingin menjadi seorang penulis yang terkenal, dan tenar diseluruh antero jagat raya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • ARA - REVISI
  • Seharusnya Kita Tidak Menyerah
  • Korban silaturahmi [TAMAT]
  • ANGEL (END)
  • Saat Semua Orang Berpaling
  • Nayara [ TERBIT ]
  • Jeritan Anak Broken Home 17+
  • Become an Extra or Main Character [END]

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines