Bagaimana mungkin seseorang bisa dengan mudah menyakiti?
Atau,
Bagaimana mungkin seseorang bisa dengan mudah memaafkan?
"Teduh, aku minta maaf." ia menggenggam tanganku
Aku berusaha menahan air mataku, ingin sekali rasanya aku pergi dari situasi ini. Aku takut. Takut saat ternyata aku jatuh lagi, takut untuk tersakiti lagi.
Dia masih menggenggam tanganku, "Teduh, tolong maafin aku. Aku bener-bener nyesel. Ak-"
"Cukup. Kemana aja kamu? Kamu ngomong nyesel sekarang, setelah 7 tahun kamu ngilang?"
"Aku bisa jelasin semuanya, aku-"
See? Dia bahkan tidak bisa melanjutkan perkataannya. Jadi untuk apa?
Aku melepaskan genggaman tangannya, "Aku rasa nggak ada yang perlu aku maafin dari kamu, kamu nggak salah. Yang salah itu aku, aku yang banyak menaruh harapan sama kamu. Makanya aku sakit, makanya aku kayak orang bodoh. Nungguin orang, tapi orangnya nggak dateng-dateng. Haha"
"Gue bakal sering dateng kesini, dan lo harus menerima gue dengan tangan terbuka. Anggap aja ini pelarian gue saat gue gak bisa sama dia,saat dia lagi sibuk dan saat gue lagi bosen. Itu syarat dari gue,dan gak bisa ditoleransi dengan apapun."
"Jangan bercanda?!"
***
Hanya karena sebuah balas budi,dia meminta lebih.
Permintaan yang konyol dan tak masuk akal.
Berusaha menolak namun dia acuh dan tak peduli.
Lantas apa yang harus dilakukan?
Menerima dengan pasrah dengan fakta yang menyakitkan,
Atau lari seperti seorang pecundang yang tak mau menepati janji.
***
Pertemuan dengan sepasang kekasih itu membuat kehidupan Harum berubah. Gadis itu merasa menyesal mengapa dari sekian banyak manusia, harus berurusan dengan kekasih orang. Harum benci dengan dirinya yang lemah mudah diperdaya oleh sosok laki-laki bermata tajam itu, Alan.
*Cover by @fitrialjazera_