The Reason

The Reason

  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 29, 2019
" Rafka itu nyebelin, dia itu cowok aneh. Ngga bisa main semua jenis permainan bola, dia itu selalu sabar tiap kali gue buat kesel. Kenapa si raf nggak pernah bisa marah sama gue? - kayla " Kayla itu rusuh, tengil, banyak ngomong. Gue nyesel dulu pernah ngira dia anak pendiem. Kayla... Gue itu bisa main bola!!! Cuma gue nya aja yang males mainnya. Dari pada kayla, dia itu lemah semua materi olahraga. Dia cuma bisa renang sama lari, hell. Anehnya, gue nggak pernah bisa marah sama anak ini." -Rafka 3 tahun bersama bukan lah hal yang mudah untuk dilewati. Suka dan duka telah di lalui bersama. Ini sebuah cerita klasik, antara 2 manusia yang terjebak dalam zona lingkaran pertemanan. Bisa dianggap sebuah keberuntungan dan juga hal menyakitkan dalam hidup secara bersamaan.
All Rights Reserved
#975
friendzone
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • feel blue
  • [#MAW1] Dhea & Rafael [Tamat]
  • Oranye Di Langit Senja
  • YOU'R MY FRIENDZONE [Completed]
  • KIARILHAM【END】
  • Halcyon
  • Romantika Anak OSIS
  • RAFKA [LENGKAP] ✔
  • The Game
  • LOVE INTO PANDORA BOX [ SUDAH TERBIT ]
feel blue

Kalila telah menyukai Rafi sejak lima tahun yang lalu. Diam-diam, ia menyimpan rasa yang tak pernah padam. Rafi adalah pusat semestanya-sosok yang tak tergapai, namun selalu hadir dalam benaknya, bahkan dalam hal-hal kecil sehari-hari. Kalila menyebutnya cinta, tapi sahabatnya, Mika, lebih sering menyebutnya obsesi. Katanya, Kalila terlalu melankolis untuk ukuran seorang gadis remaja. Selama lima tahun itu pula, Rafi telah berganti pacar sebanyak musim berganti. Kalila? Ia tetap berdiri di tempat yang sama: mengagumi dari kejauhan, tanpa pernah berani menyapa, apalagi berharap dibalas. Rafi bahkan mungkin tak tahu namanya. Kalila menulis puisi ataupun pantun kepada Rafi berharap perubahan dan menciptakan skenario-skenario yang hanya hidup dalam kepalanya sendiri. Namun waktu berjalan, dan hidup tak pernah menunggu. Ketika kenyataan mulai menggerus mimpinya, Kalila pun mulai bertanya: sampai kapan ia akan bertahan dengan rasa yang tak pernah diberi ruang untuk tumbuh? Lantas, mau diapakan perasaan Kalila sekarang ini? Haruskah ia tetap diam dalam bayang-bayang, atau justru mulai menulis kisahnya sendiri-dengan atau tanpa Rafi di dalamnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines