life is real

life is real

  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 10, 2019
Ada ketakutan yang mendalam yang mengejar kehidupan ku,tapi tak jelas itu apa ,ketakutan akan kehilangan atau mungkin ketakutan yang lain "jangan , jangan tolong ,tolong" aku terbangun dengan keringat yang menucur deras aku menatap sekelilingku tepat aku masih berada di kamar ku , seketika tangan ku yang bergemetar meraih ponsel didekat ku,ku ketik beberapa nomor yang ku hafal "halo?kenapa?"suara lelaki dengan suara serak yang membuat ku sedikit merasa tenang "hm ,gpp"aku mencoba menetralkan suaraku "apa ada suatu kejadian?kenapa kau tampak sedang ketakutan?"tanya lelaki di sebrang sana "tidak,aku hanya sedikit merasa aneh"aku tersenyum sambil melangkahkan kaki ku dari kasur size king ku ke lantai "kenapa?apa ada mimpi yang membuat mu terasa terusik?"jawab lelaki itu sambil melihat jam dinding nya "hanya beberapa hal,akan ku ceitakan nanti" tut tut aku mematikan telfon itu tepat jam 05:00 wib aku segera beranjak dari kasur kesayangan ku rasanya aku enggan beranjak dari sana tetapi ada satu hal yang harus aku selesaikan. cerita baru nih baru belajar authornya jadi maap ya agak gak nyambing
All Rights Reserved
#9
tazkia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • Cinta Yg Tumbuh Lewat Rahasia
  • MY DESTINY (COMPLETED)
  • Cantikku Dibalik Kacamataku [On Going]
  • Aku, Kamu dan Hujan
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • the Pure blood
  • Switch Over
  • Unrequited Feelings
  • TIAP-TIAP PUNYA MASING MASING

Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?

More details
WpActionLinkContent Guidelines