Ini cerita mengenai masa lalu yang pernah ada, sebuah perasaan bodoh yang tak tau tempat karena kepolosan diri.
Untuk Andrean Wijaya. Lelaki yang datang tanpa permisi, berjalan dengan keyakinan perasaannya dan pergi dengan angkuhnya bersama ribuan masalah yang tercipta.
Dengan egoku, aku berharap kau kembali. Memilih diriku, satu dari keegoisan yang tersisa untuk perasaanku. Aku harap kau kembali, namun bagaimanan bisa ku meminta lebih? Ketika nyatanya hal itu tidak mungkin lagi.
Berbahagialah Andrean, berbahagialah.
Terimakasih untuk masalalu, kenangan, rasa sakit, masalah, pelajaran hidup, dan pendewasaan diri bersamamu. Karenamu aku tau, cerita ini ada untuk aku ingat, bahwa biasanya walau kita tidak ingin memilih itu tetaplah pilihan.
Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."