we, and our metaphore

we, and our metaphore

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 6, 2020
Cia, dia pendek. Nggak pendek-pendek banget sih, tapi dia terlihat seperti 13 tahun daripada 21 tahun. Kehidupannya yang semula indah berputar layaknya roda menjadi mimpi buruk baginya. Orang tua yang selama ini ia percayai ternyata sudah membuat rencana baru tanpa sepengetahuannya. Lalu Keen, bukan lelaki dingin maupun bad boy seperti yang kalian harapkan. Dia hanya teman main Cia--yang suka menjitak kepala gadis itu tanpa ampun--yang menawarkan diri untuk selalu bersama gadis itu kapan pun.
All Rights Reserved
#853
cute
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • REDLINE FEVER
  • Titik Nadir
  • KIARILHAM【END】
  • Seperti Sedang Bermimpi [ON GOING]
  • The Bad boy and Good girl
  • Better With The Light
  • Save me, Please!
  • Princess Syndrome
  • Celine Jordie (COMPLETED)

𝗥𝗲𝗱𝗹𝗶𝗻𝗲 𝗙𝗲𝘃𝗲𝗿 adalah kisah tentang keingintahuan yang berubah jadi candu, obsesi yang tumbuh dari tatapan pertama, dan cinta yang melaju tanpa rem menuju kehancuran. Bianca Whitmore hidup dalam dunia yang tertata rapi---anak baik-baik dengan masa depan terjamin, reputasi bersih, dan segala hal yang sudah direncanakan untuknya. Tapi satu malam, satu langkah ke dalam sirkuit balap liar yang gemerlap dan berbahaya, mengubah segalanya. Di sana, ia melihatnya: Kaelith Noir. Pembalap tak terkalahkan dengan aura mematikan, dikelilingi mitos, bahaya, dan kesunyian. Pria dingin yang lebih percaya pada kecepatan daripada cinta. Awalnya, Kaelith tidak peduli. Bagi pria sepertinya, Bianca hanyalah penonton iseng yang datang, lalu pergi. Tapi ada sesuatu dalam diri gadis itu yang mengusik---cara dia menatap mesin-mesin buas itu dengan rasa takut dan kagum yang bersamaan, cara dia berdiri di tempat yang bukan dunianya, seolah menantang semesta. Rasa penasaran berubah jadi obsesi. Dan obsesi itu mulai menuntut lebih dari sekadar perhatian. Kaelith ingin Bianca. Sepenuhnya. Bahkan jika harus menginjak siapa pun yang menghalangi jalannya. Bahkan jika harus menarik Bianca lebih dalam ke dalam dunia yang tidak bisa ia tinggalkan. Namun, saat ketertarikan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih kelam dan dalam, Kaelith mulai menyadari---Bianca bukan lagi sekadar hasrat. Dia adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya merasa hidup, dan sekaligus satu-satunya kelemahan yang bisa menghancurkannya. Dan ketika Bianca mencoba menjauh, Kaelith tahu satu hal pasti. Ia akan melajukan segalanya sampai batas terakhir, hanya untuk memastikan gadis itu tidak pernah bisa pergi. © 2025 élndrxn

More details
WpActionLinkContent Guidelines