Always Into You

Always Into You

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 14, 2019
Adnan Kesan awal gue saat pertama kali bertemu Cil adalah boneka. Memang bukan boneka yang tersenyum lebar yang membawa keceriaan, tidak, Cil sama sekali tidak seperti itu. Namun, Cil adalah boneka yang berwajah datar dan bertubuh kaku, tetapi mampu memberikan kenyamanan familiar dari binar matanya yang walaupun redup-anehnya memiliki dampak menenangkan. Sesungguhnya sejak itu, gue sudah memutuskan untuk menjadikan Cil prioritas. Dan hal itu, nggak berubah. Sampai sekarang. Sampai kapanpun. Cecilia Adnan itu moodyan. Adnan itu posesif. Adnan itu bibliotaph akut. Adnan itu bijak. Hampir segala hal tentang Adnan gue tahu. Lagipula, sejak awal bertatapan dengan mata tajamnya, ada bagian dalam diri gue yang yakin setengah mati bahwa Adnan adalah sosok yang gue butuhkan dan inginkan selamanya. Mungkin, gue terlalu naif dan ego gue terlalu tinggi, makanya gue nggak pernah mengakui itu. Keraguan yang besar juga terpendam dalam diri gue mengenai perasaan Adnan sendiri. Apa yang ada dibalik senyum menawannya? Apakah pernah, walau hanya sekali, dia memiliki perasaan yang sama?
All Rights Reserved
#377
campus
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DI ANTARA DUA KEHIDUPAN (END)
  • Antara Fajar Dan Senja [TERBIT]
  • BE A RAINBOW
  • PERCAYA? [END]
  • Cool Boy & Gadis Halu
  • MsS 2 : Ini Aku [ COMPLETED ]
  • unrequited love (Completed)✔
  • DOUBLE SARA
  • Sosiologi Cinta (TAMAT)
  • Love Maze

"Anak hebat Ayah, kalau sudah besar mau jadi apa?" Suara itu masih terngiang di kepala Syela, lembut dan penuh kasih sayang. Malam itu, ia masih berusia enam tahun, duduk di pangkuan ayahnya yang selalu wangi dengan aroma buku dan kopi. "Dokter, Ayah. Supaya Syela bisa menyembuhkan orang-orang dan membantu banyak orang," jawabnya dengan penuh semangat. Ayahnya tertawa kecil, mengusap kepalanya dengan penuh kebanggaan. "Syela janji ya, suatu hari nanti akan jadi dokter hebat? Ayah janji akan selalu menuntun langkah Syela sampai impian itu terwujud." "Iya, Ayah! Syela janji! Terima kasih, Ayah. Syela sayang Ayah, sampai kapanpun." Janji itu terdengar begitu nyata, seolah hanya terjadi kemarin. Tapi kini, bertahun-tahun setelahnya, Syela hanya bisa menatap kosong ke langit-langit kamar. Ayah tidak lagi di sini. Janji itu, yang dulu terdengar seperti kepastian, kini hanya tinggal kenangan yang menggantung di dara. Syela menarik napas panjang, meremas ujung selimutnya. Sudah bertahun-tahun sejak ia kehilangan sosok yang paling ia cintai. Tapi luka itu tak pernah benar-benar sembuh. "Mana janji Ayah yang akan menuntun langkah Syela?" baca selengkap nya ya! @ssabrinena @syelas.story

More details
WpActionLinkContent Guidelines