Antalogi Patah Hati

Antalogi Patah Hati

  • WpView
    Reads 224
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 19, 2020
Antalogi secara harfiah ialah kumpulan/karangan bunga. Lalu mengapa kali ini aku ingin menulis "Antalogi Patah Hati"? Sederhana sajah, saya ingin berbagi rasa yang utuh tanpa ada sosok lain yang saya buat. Barangkali tulisan ini adalah ungkapan kata yang patah, sempat utuh, bertahan di ujung tanduk dan pada akhirnya patah!! Berat sudah menopang segala mimpi dan segudang harap. Sudah cukup sesak dada ini menampung. Semoga tulisan ini bisa menjadi wadah bagi arwah harapan yang tak kunjung indah. Harapan itu mati secara tragis, membunuh dirinya sendiri karna ternyata imajinasi terlalu berlebih membayangkan rasanya menua bersama. Tubuhnya di sayat oleh jutaan janji. Kakinya bengkak menopang kata "aku akan setia". Kepalanya tak bisa lagi mendongak ke atas, karena beban berat ia panggul atas nama "aku akan menunggu". Tangan tak kuat lagi menengadah untuk melakukan gerakan ibadah, tangannya lemas terus mengepal, mengenggam untaian kata "aku ingin selalu bersamamu". Jasadnya kini membau, mulai membusuk, berkudis dan bernanah. Mulutnya tak bisa lagi berucap, di jahit dengan benang yang tak merata. Seolah ia berbicara dengan bahasa sunyi yang gagu. Bahwa "Kini Aku Sepi". Sendiri memapah diri yang tak bisa berbuat apa. Menerima segala sakit yang tak kunjung sembuh. Selamat membaca. Aku berharap jangan pernah dengki setelah kau melihat. Merasa dalam dimensi aksara yang begitu magis.
All Rights Reserved
#291
jatuhhati
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PERAYAAN PATAH HATI
  • Antara Aksara dan Kata
  • Satu Bait Tentang Hidup
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • PROSPECT HEART (End)
  • Lost in Your Mysterious Feeling [ TAMAT ]
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • Senandika untuk yang Tak Bernama (GreShan)

"Tidak semua luka harus sembuh, sebagian justru layak dikenang..." Dalam kumpulan cerpen ini, patah hati bukan sekadar akhir dari cinta, tapi sebuah perayaan-tempat kenangan, luka, pengkhianatan, dan keheningan duduk bersama dalam satu meja, meneguk air mata sebagai anggur malam. Perayaan Patah Hati menghadirkan kisah-kisah manusia yang berjalan limbung di lorong sunyi kehilangan: Seorang pria yang dihantui masa lalu mantan istrinya, hingga iblis dalam dirinya menampakkan wajah... Perempuan yang mencari makna di balik mimpi-mimpi gelap setelah kekasihnya hilang tanpa pesan... Sebuah surat yang tak pernah sampai, ditulis di antara jeda hujan dan bunyi ambulans... Dan cinta-cinta lainnya, yang menyublim dalam kata, menyakitkan namun indah dikenang. Dengan gaya bahasa yang manis dan penuh diksi metaforis, buku ini mengajak pembaca merayakan rasa sakit, menyelami kedalaman luka, dan menatap cahaya kecil di ujung sepi. Karena tidak semua patah hati harus dilupakan-sebagian dituliskan, dirayakan, dan dijadikan rumah bagi yang pernah tersesat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines