Antalogi Patah Hati

Antalogi Patah Hati

  • WpView
    Reads 232
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 19, 2020
Antalogi secara harfiah ialah kumpulan/karangan bunga. Lalu mengapa kali ini aku ingin menulis "Antalogi Patah Hati"? Sederhana sajah, saya ingin berbagi rasa yang utuh tanpa ada sosok lain yang saya buat. Barangkali tulisan ini adalah ungkapan kata yang patah, sempat utuh, bertahan di ujung tanduk dan pada akhirnya patah!! Berat sudah menopang segala mimpi dan segudang harap. Sudah cukup sesak dada ini menampung. Semoga tulisan ini bisa menjadi wadah bagi arwah harapan yang tak kunjung indah. Harapan itu mati secara tragis, membunuh dirinya sendiri karna ternyata imajinasi terlalu berlebih membayangkan rasanya menua bersama. Tubuhnya di sayat oleh jutaan janji. Kakinya bengkak menopang kata "aku akan setia". Kepalanya tak bisa lagi mendongak ke atas, karena beban berat ia panggul atas nama "aku akan menunggu". Tangan tak kuat lagi menengadah untuk melakukan gerakan ibadah, tangannya lemas terus mengepal, mengenggam untaian kata "aku ingin selalu bersamamu". Jasadnya kini membau, mulai membusuk, berkudis dan bernanah. Mulutnya tak bisa lagi berucap, di jahit dengan benang yang tak merata. Seolah ia berbicara dengan bahasa sunyi yang gagu. Bahwa "Kini Aku Sepi". Sendiri memapah diri yang tak bisa berbuat apa. Menerima segala sakit yang tak kunjung sembuh. Selamat membaca. Aku berharap jangan pernah dengki setelah kau melihat. Merasa dalam dimensi aksara yang begitu magis.
All Rights Reserved
#180
jatuhhati
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ayo menepi dulu, sebentar saja.
  • Satu Bait Tentang Hidup
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • Antara Aksara dan Kata
  • Senandika untuk yang Tak Bernama (GreShan)
  • PERAYAAN PATAH HATI
  • Mahligai Sunyi

[HIATUS] Indira tidak pernah meminta untuk dilahirkan dengan tubuh yang lemah. Tapi hari-harinya kini dipenuhi detak mesin, jarum-jarum tajam, dan dinding rumah sakit yang dingin. Tubuhnya tidak pernah benar-benar sembuh, tapi pikirannya terus mencoba kuat. Karena di sisi lain, ada Ella. Seseorang yang selalu ada di sana, dengan sabar, lembut, dan tak pernah menyerah. Ella yang datang dengan susu kotak saat dunia rasanya hambar, yang menemani sesi cuci darah meski hanya bisa duduk diam sambil menggenggam ujung jaket Indira. Namun semakin hari, semakin terasa: ada batas yang tak bisa lagi mereka pura-pura tak lihat. Indira mulai menjauh, bukan karena tidak cinta, tapi karena takut cinta itu perlahan berubah jadi beban. Ia merasa tak lagi layak untuk dicintai, apalagi saat tubuhnya sendiri terkadang tak sanggup berdiri lebih lama dari lima belas menit. Sementara Ella terus bertanya; mengapa kak Indira menarik diri? Apa salah jika ia ingin tetap di samping seseorang yang ia pilih untuk ia perjuangkan? Di antara rasa sayang dan amarah yang terpendam, keduanya mulai kehilangan arah. Mereka tak pernah bertengkar, tapi diam-diam saling menyimpan luka. Sampai pada akhirnya, sebuah sore yang sunyi di stasiun kecil menjadi saksi bahwa: keduanya duduk berdampingan, tanpa banyak kata. Hanya ada satu kalimat dari Ella, pelan namun penuh makna, "Ayo menepi dulu, sebentar saja." Bukan untuk pergi, bukan untuk berakhir. Tapi untuk istirahat dari semua hal yang memaksa mereka menjadi kuat setiap waktu. Namun yang tidak mereka tahu adalah... kadang, yang kita anggap hanya sebentar bisa jadi jeda terakhir sebelum semuanya berubah. "Aku ngerasa kayak mayat hidup, El..." "Ada aku, Ada Ella... Semuanya akan baik-baik aja, kak. Trust me..." Start ; Fri, May 16, 2025 End ; - By. awmawindh |; Seraphine.daine

More details
WpActionLinkContent Guidelines