SESINGKAT SENJA

SESINGKAT SENJA

  • WpView
    LECTURAS 276
  • WpVote
    Votos 38
  • WpPart
    Partes 7
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, may 12, 2020
Angin sepoi-sepoi membelai lembut tubuh Aurel. Rambut yang bergelombang dan dress maroon bergerak kecil akibat tiupan angin. Tangannya menggenggam erat ujung dress yang ia kenakan. Matanya memanas, emosi memuncak, setetes air bening jatuh dari pelupuk matanya membasahi pipinya, dengan cepat ia seka. Lelaki yang selama ini ia cintai, menyatakan perasaannya. Namun, pernyataan itu bukan untuknya. Aurel berbalik lalu berjalan pelan meninggalkan keduanya. Sebelum mereka sadar dan melihat dirinya. Hatinya semakin remuk melihat pemandangan itu. Kini ia berjalan lebih cepat sambil menyeka air mata yang turun dengan sendirinya sedari tadi "Kamu menyinggahi hatiku, sesingkat senja menyinggahi langit" -Gebby Aurelia
Todos los derechos reservados
#84
aurel
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • CINDY : Sebelum Aku Pergi
  • IMDL
  • playlist (completed)
  • Pemilik Hati Ketos Dingin (Tamat)
  • AURELINE
  • Perder El Amor
  • Benci Tapi Cinta Mati
  • Jejak rindu di Bandung [ TAMAT]

"Apa yang sanggup memisahkan dua hati yang saling mencinta? Katakan padaku, Cindy." Suara Rayven terdengar serak, seolah setiap katanya membawa luka yang tak bisa disembuhkan. Tatapan matanya merintih, memohon jawaban dari gadis yang berdiri di hadapannya-jawaban yang mungkin bisa menyelamatkan hatinya dari kehancuran. Cindy menatap tanah sejenak, bibirnya bergetar. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Rayven dengan pandangan yang dipenuhi air mata dan rasa sesal. Dengan suara yang lirih, sehalus angin yang menyesap di antara rinai hujan, ia menjawab: "Waktu, Rayven... dan tempat yang tak lagi sama." Air matanya jatuh, tanpa bisa dicegah, menyatu dengan tetes hujan yang membasahi dunia di sekitar mereka. Hujan turun seolah ikut menangis, mengiringi jiwa yang saling mencinta namun tak bisa bersama. Rayven menggeleng pelan, hatinya mencabik dari dalam. Ia meraih tangan Cindy, memohon dengan sisa harapan yang ia miliki, Namun Cindy menarik tangannya, perlahan tapi pasti, lalu melangkah mundur. "Kalau waktu memisahkan kita... maka aku akan menunggu selamanya!" Rayven berseru, suaranya nyaris patah. "Cindy, tolong... beri aku alasan! Kenapa kamu harus pergi? Kenapa bukan kita yang melawan dunia ini bersama?" Cindy tersenyum dalam tangisnya. "Karena tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimenangkan, Rayven..." Kemudian ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Rayven di tengah hujan yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido