Badboy insyaf [00L]

Badboy insyaf [00L]

  • WpView
    Reads 1,046
  • WpVote
    Votes 125
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 15, 2020
WpInfo
Fanfic
Wanna One
Hanya berkisahkan tentang 4 orang berandal nakal yang di bawa oleh orang tuanya ke suatu desa terpencil. semata-mata untuk mengubah hidup mereka yang begajulan. "Kalo yang ngajarinnya cantik sih, gue mau." -Muhammad Bae Ajin. "Allahuakbar, itu bidadari dari mana? kok cantik banget." -Ahmad Alin. "Cewek begitu mah susah dimainin gusti." -Rendy junaidi. "Gue sih yes." -Boni Kusuma hadimin. enjoy with my new story guys happy reading :)
All Rights Reserved
#353
laiguanlin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • kita ini apasih ? • 7dream ✓
  • F A T E |NA Jaemin|
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Twins; Jevan-Nevan [TERBIT]
  • REVENGE || 復讐  Fukushū  00L
  • GrapicH [✔] JOHNTEN FML
  • ETERNITY [✓]
  • £xcanged Lov£ [ ✓ ]

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines