Mission 21+

Mission 21+

  • WpView
    Reads 1,065,538
  • WpVote
    Votes 73,343
  • WpPart
    Parts 37
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 24, 2025
Raline Arsjad, yang tadinya bertekad untuk husbandfree, dipertemukan dengan pria yang mirip dengannya, Christian Dhirgantara, hingga terciptalah satu komitmen antara dua orang dewasa. Menikah, asal dengan orang yang sevisi-misi mah ruginya apa? It's a win-win solution. ========== "Body count?" "You wouldn't like to know." "Why do you want to get married?" "Sama, kan? We're not into marriage thing, tapi kalau ketemu orang yang nggak merepotkan, why not? Kita hidup di tempat yang memandang status, di mana yang udah berkeluarga dianggap lebih kredibel."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Sweet RomanShit
  • Ok, Boss! [Re-Post]
  • A Game to Make Him Fall
  • Cinta itu kubikal
  • Oddly Coupley (Complete)
  • Crazy Marriage
  • Saat Kita Jatuh Cinta
  • Langkah Seiring (END+EXTRA PART)
  • Proposal For Wedding

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines