We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Weird Classmates

Weird Classmates

  • WpView
    Reads 795
  • WpVote
    Votes 98
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 23, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"Balikin pulpen gue!" "Gak. Udah jadi hak milik gue." Ini cerita tentang Classy Adara Myesha, yang dunia nya jungkir balik setelah masuk ke sekolah SMA Angkasa Bintang. Tepatnya karena teman sekelasnya yang kelakuannya aneh-aneh. Classy yang hidupnya sangat berkelas, seperti namanya-harus menghadapi teman-teman yang dapat mengubah dirinya. Belum lagi konflik-konflik antar kelas maupun antar sesama teman sekelas. Membuat hidup Classy yang santai tanpa masalah harus repot menghadapi masalah. Disana juga ia bertemu EL. Kakak kelasnya yang super dingin. Kaya raya dan tampan. Cowok itu juga jadi merepotkan hidup Classy. Satu-satunya Pewaris kekayaan keluarganya itu menjadi beban baru bagi Classy. Mau tahu cerita tentang Classy dan teman-teman? Baca dan vote serta comment! Share juga agar semua orang bisa membaca cerita ini.
All Rights Reserved
#23
temansekelas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rindu Senin Pagi
  • ALKASA✔
  • A & A  (HIATUS)
  • My Darrel
  • My Friend and My Bestfriend
  • Sosiologi Cinta (TAMAT)
  • LOVE AND SECRET
  • EMBUN
  • Harimau With Wolf

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines