Story cover for Weird Classmates by chaalvinna
Weird Classmates
  • WpView
    LECTURAS 786
  • WpVote
    Votos 98
  • WpPart
    Partes 9
  • WpView
    LECTURAS 786
  • WpVote
    Votos 98
  • WpPart
    Partes 9
Continúa, Has publicado dic 12, 2019
"Balikin pulpen gue!"

"Gak. Udah jadi hak milik gue."


Ini cerita tentang Classy Adara Myesha, yang dunia nya jungkir balik setelah masuk ke sekolah SMA Angkasa Bintang. Tepatnya karena teman sekelasnya yang kelakuannya aneh-aneh. Classy yang hidupnya sangat berkelas, seperti namanya-harus menghadapi teman-teman yang dapat mengubah dirinya. Belum lagi konflik-konflik antar kelas maupun antar sesama teman sekelas. Membuat hidup Classy yang santai tanpa masalah harus repot menghadapi masalah.

Disana juga ia bertemu EL. Kakak kelasnya yang super dingin. Kaya raya dan tampan. Cowok itu juga jadi merepotkan hidup Classy. Satu-satunya Pewaris kekayaan keluarganya itu menjadi beban baru bagi Classy.


Mau tahu cerita tentang Classy dan teman-teman?



Baca dan vote serta comment! 
Share juga agar semua orang bisa membaca cerita ini.
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir Weird Classmates a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
#49weird
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
All About You [END] de HidayatinTBN_94
71 partes Concluida
Hidup dengan bergelimang harta tak selamanya membuat seseorang bahagia. Itulah yang dirasakan oleh Andra Bharata. Terlahir dari keluarga kaya tak lantas membuat pemuda berusia 18 tahun itu bahagia. Ayah dan ibunya bercerai saat ia masih kecil. Permasalahan keluarga Bharata yang cukup pelik membuat hubungan Andra dan sang ayah, Arga Bharata, seperti orang asing. Setelah kedua orang tuanya bercerai, Andra tinggal bersama kakek dan neneknya. Ketika Andra duduk di bangku SMP, sang nenek meninggal. Lalu, disusul sang kakek yang meninggal saat Andra hendak naik ke kelas 12 SMA. Sang ayah yang kini telah memiliki keluarga baru, tak bisa mengajak Andra tinggal bersama. Oleh sebab itu, Andra tinggal seorang diri di sebuah apartemen mewah milik mendiang sang kakek. Keadaan tersebut membuat Andra merasa hidup sebagai yatim piatu sekalipun kedua orang tuanya masih hidup. Berbeda dengan Andra. Windy Aryani adalah seorang gadis yang cantik dan cerdas. Berkat kecerdasannya, Windy masuk jajaran murid terbaik SMA Adhyaksa yang merupakan sekolah elite dan unggulan. Gadis berambut sebahu itu berasal dari keluarga sederhana yang harmonis. Sejak kecil, Windy hidup dengan berlimpah kasih sayang. Terlahir dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, Windy bertekad untuk menjadi sukses demi membahagiakan dan membanggakan kedua orang tuanya. Oleh karenanya, gadis itu belajar keras agar bisa menggapai cita-cita dan mengangkat derajat orang tuanya. Windy dan Andra menjadi teman satu kelompok untuk menaikkan nilai rata-rata kelas yang tidak seimbang. Banyak menghabiskan waktu belajar bersama, Andra dan Windy perlahan jadi dekat dan mulai memahami keadaan satu sama lain. Kehidupan keduanya yang sangat berbeda menjadikan mereka belajar, bahwa hidup ini tak bisa sepenuhnya dinilai dari materi. Kadang, seseorang yang hidupnya tampak bahagia, belum tentu benar-benar bahagia. Begitu juga sebaliknya.
Rindu Senin Pagi de Rizardila
25 partes Concluida
Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.
Quizás también te guste
Slide 1 of 9
PROSA "Proyeksi Rasa" [END] cover
All About You [END] cover
EMBUN cover
Rapuh Lalu Retak (RLR) cover
ALKASA✔ cover
DEVIAN [END] cover
Kelas A [End] cover
My Darrel cover
Rindu Senin Pagi cover

PROSA "Proyeksi Rasa" [END]

32 partes Concluida

Bagi Alfira, persahabatan adalah ikatan tanpa komitmen. Sedangkan sahabat adalah makhluk Tuhan yang siap mendengarkan keluh kesahmu dan memberi solusi dari masalah kehidupanmu. Tapi keadaan memang tidak pernah bisa diprediksi, apa yang dimiliki juga bisa kapan saja pergi. Ketika sahabatnya pergi, Alfira benar-benar kehilangan arah tanpa arti, butuh adaptasi lagi untuk sembuh dari elegi. "Cuma lo Ra! yang menganggap persahabatan ini bukan apa-apa. Ya cuma lo!" ucap Reza kecewa. Namun, ketika semuanya kembali mampukah Alfira berdamai dengan hati? Butuh waktu yang lama untuk sembuh, butuh keadaan yang seirama untuk menempuh. Tapi, bagaimana jadinya jika aku sudah berhasil berlabuh, dengan mudahnya kau kembali dan karamkan lagi kapalku? "Kalo nggak mau jadi pacar gue oke gue terima lo tolak, tapi kalo gue lamar gimana?" ucap laki-laki yang ada dihadapannya. Lalu apa-apaan kali ini? Dengan berani dan percaya diri tingkat tinggi, dia menawarkan diri menjadi awak kapalku? Yang aku yakin, dia pasti mampu membantuku. Namun, bisakah aku melupakan masa lalu? Dan kembali menempuh perjalanan baru?