BROWNIS
  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 14, 2019
Coklatnya manis seperti kau, entah itu perilaku, wajah, atau kata katamu hingga aku mudah tertipu daya oleh kemanisanmu itu:". Andai kata, selamanya kau seperti itu walau kita sudah tak bersama, aku akan selamanya menyebut kau lelaki tersempurna di muka bumi ini. Dekat disana anganku tuk jadi pendampingmu seumur hidupmu, selalu disebelahmu, menggenggam erat jari jari manismu, melumat bibir manismu. Sambil tersenyum, aku memikirkanmu ''apakah pernah kau memikirkanku walau saat kita sudah berpisah?''. Kini, hatiku tergores kesedihan ketika terucap salam perpisahan walau air mata sudah berlinang, bukan berarti sebuah kerelaan, bukan juga sebuah keikhlasan, karena aku yakin suatu saat kita akan membangun sebuah hubungan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Complicated | Halilintar x Reader
  • Antara Teman dan Teman Hidup
  • TIME will TELL {On Going}
  • You Are Still The Winner
  • My All, That Is You
  • Mengembalikan Ikatan Persaudaraan (End)
  • ARORA
  • Cause We are Family
  • My Lovely Heart

Perasaan manusia adalah hal yang rumit untuk dipahami. Semakin keras usaha dalam memahaminya, maka semakin membingungkan pula urusan yang harus diselesaikan. Semakin lama semakin larut dalam ketidaknyamanan. Perasaan yang menggebu-gebu disaat wanita itu mendekatinya. Tak ada kepastian dari logika, tentang perasaan yang dirasakannya. Kemurkaan? Kebencian? Kecintaan? Tak heran, jika amarah dan cinta itu diumpamakan sebagai satu warna yang sama.

More details
WpActionLinkContent Guidelines