SAILING THE SEASHORE

SAILING THE SEASHORE

  • WpView
    Прочтений 19
  • WpVote
    Голосов 3
  • WpPart
    Частей 3
WpMetadataReadВ процессе
WpMetadataNoticeLast published втр, дек. 17, 2019
PROLOG Perempuan itu masih memandang kosong pada sosok yang tampak mematung di hadapannya. Seseorang berkebaya putih dengan payet yang tampak berkelip karena pantulan cahaya, dipadukan dengan bawahan kain batik. Ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis yang pasti akan menghancurkan riasan berjam-jamnya bila ia membiarkan air mata mengalir begitu saja. "Kau yakin sial ini?" tanya perempuan itu pada bayangan dirinya sendiri pada cermin di hadapannya kemudian ia tersenyum sendiri seolah memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja. Dua detik kemudian, perempuan itu memandang kosong pada langit di luar jendela ruangannya. "Hidup hanya satu kali, menikah juga seharusnya hanya sekali sakral. Penceraian bukan sebuah pilihan, kau ingat itu." Kata-kata itulah yang terus terngiang di otaknya. Bagaimana tidak? Ini adalah hari pernikahannya dan entah kenapa perasaannya seperti di campur aduk, Terlalu banyak nasihat sana-sini yang membuat pikirannya semakin runyam kala itu. Kepalanya terasa berdenyut dan mungkin hampir pecah. Ia kembali bermonolog dengan cermin, entah percakapan macam apa yang sedang ia bahas dengan pantulan dirinya sendiri. Percakapan itu terhenti saat menyadari seseorang mengetuk pintu kamarnya dan langsung masuk begitu saja menghampirinya. "Ayah," panggil gadis atau lebih tepatnya perlahan beranjak menjadi wanita muda tersebut. "Kau sudah siap?" "Never been this ready, Dad."
Все права сохранены
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

Вам также может понравиться

  • TAK BISA MELAWAN TAKDIR
  • Kesempatan Kedua
  • ALA
  • Bukan Istri Bayaran(End)
  • SAY SARANGHAE
  • My Husband Is A Cold Man
  • Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)
  • Jodoh Kedua (END)
  • Silent, Please! (Re-up)

Prolog: Tak Bisa Melawan Takdir Langit sore merona jingga saat Bayu membantu seorang wanita tua menyeberang jalan. Lalu lintas kota ramai, kendaraan melaju dengan ritme sibuk khas perkotaan. Namun, di tengah perhatiannya yang tertuju pada keselamatan si wanita tua, sebuah tubuh menabraknya dari samping. "Aduh! Maaf!" suara perempuan terdengar panik. Bayu terhuyung sedikit sebelum menoleh. Seorang gadis berdiri di depannya dengan wajah penuh kebingungan-Tania. "Aku nggak sengaja! Aku buru-buru dan-" Klakson keras memotong ucapannya. Keduanya menoleh bersamaan. Dari kejauhan, sebuah truk besar bermuatan penuh melaju dengan kecepatan tinggi. Jaraknya terlalu dekat, remnya berbunyi memekakkan, tetapi laju kendaraan itu tidak berhenti. Mata mereka membelalak. Lalu segalanya menjadi gelap. --- Bayu terbangun dengan napas tersengal. Udara di sekitarnya terasa sejuk dan beraroma tanah basah. Dia mencoba mengangkat tubuhnya, namun yang ia lihat bukan jalanan kota, melainkan langit biru yang bersih, tak ada gedung-gedung tinggi atau suara kendaraan. Di hadapannya, sebuah kastil megah menjulang, dengan bendera berkibar di puncaknya. "Apa ini...?" gumamnya. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Pakaiannya berbeda-jubah kebesaran berwarna biru dengan sulaman emas menghiasi dadanya. Tangannya gemetar saat ia menyentuh permukaan kain yang terasa mahal. Kemudian, suara langkah cepat menghampiri. "KAMUU?" Bayu menoleh, dan seketika matanya membesar. Tania berdiri di depannya, mengenakan gaun anggun berwarna putih gading, dengan sulaman halus di bagian lengan dan pinggangnya. Rambutnya lebih panjang, tersisir rapi dengan hiasan kecil di atas kepalanya. Namun, yang paling mengejutkan bukanlah penampilannya-melainkan ekspresi wajahnya. "Kau juga di sini?" tanyanya pelan, suaranya bergetar.

Подробнее
WpActionLinkТребования к контенту