My Brother

My Brother

  • WpView
    Reads 3,408
  • WpVote
    Votes 151
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 7, 2020
Seorang kakak yang jatuh cinta kepada adiknya sendiri? Mungkin hal ini akan terdengar aneh ditelinga orang, namun untuk apa mendengarkan pendapat orang lain yang tak suka? Aku hidup bukan untuk membuat orang lain bahagia. "Kakak gak mungkinlah ninggalin kamu, Naira kan harta karun satu-satunya kakak. Kamu bahkan lebih berharga dibanding semua uang harta berlian yang kakak miliki" "Kakak janji kan?" Naira mengacungkan kelingkingnya untuk membentuk perjanjian antara kakak dan adik itu "Iya, kakak janji gak bakalan ninggalin kamu. Karena kakak sayang, suka, plus cinta sama Naira" William mambawa Adiknya kekasurnya dan segera beranjak keluar dari kamar Naira. "Sayang?, suka? Plus cinta?" Gumam Naira namun tak didengar oleh William karena jarak mereka yang semakin jauh. Wajah Naira kembali merona, ada apa ini? Ia sangat paham kalau William itu hanya bilang seperti itu karena mereka itu bersaudara. Bukan karena ia memiliki rasa kepadanya. "Tidak-tidak! Dia itu kakakku! Kak William tidak mungkinkan ada perasaan sama aku?"
All Rights Reserved
#577
saudara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Menikahi Sahabat Ibuku
  • Not The Wrong
  • Bad Papa
  • Silent, Please! (Re-up)
  • Disguise... [END]
  • Cinta Putih Biru (Slow Update)
  • DIFFERENT TWINS [ END ]
  • That Love Comes

!!!WARNING!!! BACALAH NOVEL INI SENDIRIAN JIKA TIDAK INGIN DI ANGGAP SEBAGAI ORANG GILA! Karena kesalahpahaman, Ana dipaksa menikah dengan seorang pria yang terpaut jauh dengan usianya. Dan siapa sangka, pria yang di nikahinya itu adalah seorang duda anak satu dan parahnya lagi dia adalah sahabat ibunya yang dulu sangat mencintai ibu Ana. Keduanya hidup bagai seekor kucing&tikus, setiap saat ada saja masalah yang diributkan. "Tolong-tolong, ada om-om cabul. Aku mau di nodai, tolong-tolong! Hmppp..." "Saya tadi ingin membopong kamu, karena kamu tidurnya ngebo! Dibangunin berulang kali tidak mempan. Seharusnya kamu seneng, ada yang perhatian sama kamu bukan malah menuduh saya pria cabul!" Sentak Aldi dengan nada membisik di telinga Ana. "Dengar yaa, om-om cabul aku sungguh tidak berharap digendong oleh dirimu. Lain kali gak usah nyari kesempatan dalam kesempitan!" Bentak Ana. "Hei, kamu itu dikasih hati malah ngelunjak minta cinta. Saya tidak minat berbuat lebih pada tubuh kecil, tepos, bodi bambu, depan belakang rata, muka pas-pasan pula. Jadi kaya apa nanti anakku kalo saya nikah dan suka sama kamu." "Heiii, huh huh.." dengan napas tersengal-sengal dan jari menunjuk wajah Aldi. "Siapa juga yang minta cinta dan kawin sama om cabul kaya kamu?! Dasar om-om tua, keriput, pelit, medit, cabul---"

More details
WpActionLinkContent Guidelines