everyday with you

everyday with you

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 17, 2019
Hujan Dan waktu, bagiku hanya hitungan dalam deru, yang reda dalam rongga dadamu aku hanyalah gemericik, yang sesekali menengokmu dalam kesepian, aku hanyalah temanmu, di sela hujan-hujan ini Sebagai cerita-cerita bukan cuma sekedar tenang, kaudapatkan aku kembali, pada siluet yang hujan buat dingin itu, mungkin sesekali memelukmu dalam aku yang memelik, kehilangan hangatnya Hujan ini, seperti raut birumu seperti diam bibir dan benam matamu, kaurasakan wangi hujan itu, apa sama? seperti saat kemarin, di sela selasar jalan di rumahmu, di arah pulangmu, atau di tengah malam Seakan-akan hujan sedang sedih, tahu segala tempat, tentangmu merenung dan saat ini, mungkin kau sedang cemas tapi tak serisau aku, aku titip dirimu padanya jangan salahkan aku, jika hujan merindukanmu Di tempat itu di segala tempat, yang pernah ada aku di dalamnya - alvaro alexander --------------------------👽--------------------------- jika suatu saat nanti aku harus pergi, jangan disesali. ketahuilah, butuh waktu yang panjang dan lelah yang tiada berakhir untuk aku memutuskan tidak kembali. jika suatu saat nanti aku harus pergi, percayalah, bukan maksud hati meninggalkan dan mengakhiri. tiada pernah sekalipun inginku menyakiti; sebab kusadari akan mengutuk diri bila harus kehilanganmu karena kebodohanku sendiri. - salsaabilaa putrii
All Rights Reserved
#143
alva
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Behind After
  • Dependency ✓ [Sudah Terbit]
  • Until The End Of Story
  • Alenara; Living in a Fairy Tale
  • about us and him ✔️
  • HUJAN WAKTU ITU
  • Rintik Hujan
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • 雨 (𝐡𝐮𝐣𝐚𝐧)

Kita semu, dan aku mungkin hanya cerita tidak menyenangkan lainnya dari cinta pertamamu yang kelabu. Kita tiada, seperti suara riuh dari hujan yang sia-sia. -- [Beberapa part sengaja di-unpublish sementara karena proses revisi] Setelah kemarin, aku memutuskan menuliskanmu dalam cerita, sebagai bentuk penerimaan terbesarku usai kehilangan. Sebelum sampai Bandung pun, aku tahu aku hanya bersembunyi dibalik kata 'setelah' dan kita yang selesai. Sementara kamu tidak pernah hilang. Meski aku sudah tahu, rasanya kau seperti waktu, sementara aku hanya pergantian dari hujanmu yang usai--pun kemaraumu yang selesai. Aku masih bersikeras melupakan, El, mengisi hujan yang terlalu riuh dan pergantian musim yang terlalu lengang. Bandung sudah mengirimkan banyak orang-orang baru, memberitahu jika tanpa hadirmu pun, aku bisa melalui semuanya. Namun tetap saja, hatiku batu. Seluruh penuh dan kosong hanya meyakinkanku soal kamu. Sementara bagimu, aku tidak pernah punya ruang, bukan? Aku hanya kosong yang senang ketika kauminta menggenapkanmu paksa, memulihkanmu dari bekas luka dan cerita lama. Sudah hampir setengah dasawarsa, dan aku memutuskan menuliskanmu dalam cerita, menulis seluruh riuh hujan yang gembira dan cerita tentang perempuan kaku yang pandai berpura-pura. Terima kasih, El. Kau tetap manusia meneduhkan dan sungguh berharga bahkan setelah Bandung berhasil mengubah sebagian besar dari bagaimana aku melihat dunia. [COMPLETED]

More details
WpActionLinkContent Guidelines