King And "Babu"

King And "Babu"

  • WpView
    Reads 5,558
  • WpVote
    Votes 368
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 29, 2022
Sudah jadi siswi beasiswa, disuruh ganti rugi pula. Bagaimana tidak? Memang benar itu salahnya. Tetapi ganti rugi ini sangatlah memberatkannya. Kenapa? karena gadis itu harus menjadi babu dari sebuah geng yang dikenal suka membuli disekolahnya. Masalah apa yang harus membuat Puri terpaksa menjadi Babu bagi geng yang penuh rahasia itu? Bagaimana kelanjutan cerita Puri? Apakah dia sanggup menerima untuk mengganti rugi tesebut? Ayo ikuti kisah Puri dan beberapa cast lain disini! ⚠️Adegan kekerasan dalam cerita ini tidak untuk ditiru⚠️ ________________________________ Hai pembaca lovers! Jika tertarik, kunjungi cerita pertama saya King and Babu! Mungkin Aja suka Mentahan cover : https://my.w.tt/UmGm4jbAh6 🙂
All Rights Reserved
#309
newstory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Fall in Love with Gangster Boy (END)
  • Exchange Souls With Villains
  • Tentang Hery [Sudah Terbit Di Rex Publishing]
  • FIGURAN GIRL ( LENGKAP )
  • Abarasha [End]
  • Troublemaker Boy
  • SamLova [Terbit]
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]
  • GASA [end]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines