Perfect Heart But A Lie

Perfect Heart But A Lie

  • WpView
    Reads 128
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 22, 2020
"Semua orang bahagia memiliki pasangan, namun mengapa aku tidak?" "Jangan keluar rumah, dan jangan sesekali kamu pergi dgn mereka." ucap Yudha. "Tapi knp? Aku cuman pengen bahagia." "Biar aku yg bikin kamu bahagia, dan yg lain nggk." Itu adalah percakapan singkat antara Yudha dan Adel. Apa yg kalian rasakan jika memiliki pasangan yg overprotektif, pasti itu sangat tidak menyenangkan dan tertekan. Dan seperti itulah yg dirasakan oleh Adel. Kalo kalian penasaran sama cerita ini, makanya langsung mampir ke lapak aku dan baca, vote, and comen yaaa😊😉
All Rights Reserved
#196
adel
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TAKDIR TERBAIK (TERBIT)
  • little Girl And Possessive Cool Boy (End)
  • REYNAND A.A
  • Jodoh Terbaik [TERBIT]
  • TOUCHED (End)
  • ZAYYAN [HIATUS]
  • Alvaro garcia D.
  • Merried
  • Last Love You ( End)

Dilamar karena saling mencintai ✖ Dilamar karena mendoakan saat bersin✔ ** Najla tidak pernah mengira kalau mendoakan seorang Adam Rayyan Rizqullah ketika lelaki itu bersin akan berakhir dilamar. Gadis yang belum move on dari mantan kekasihnya itu dibuat bingung. Antara menerima lamaran dari Adam atau menunggu Alan kembali yang entah pergi ke mana. Di mata Najla, Adam memiliki sebuah kelebihan dan sesuai kriteria suami idamannya. Apa itu? Kelebihan Adam adalah duda! Iya, kalian tidak salah baca. Najla, gadis absurd yang memiliki kriteria suami idaman seorang duda. Aneh, bukan? Keinginannya menikah dengan duda sudah mendarah daging, bahkan kedua sahabatnya didoktrin agar memiliki kriteria yang sama. Akankah Najla menerima lamaran dari Adam dan melupakan masa lalunya? ** "Adek saya masih kecil," ucap Lettu Ammar "Saya tau," jawab Mayor Adam enteng. "Dia gengsian." "Saya akan belajar untuk peka." "Dia suka marah-marah." "Sebisa mungkin saya tidak memancing amarahnya." "Ilmu agama yang dia tau tidak sedalam itu." "Akan saya santriwatikan adekmu dengan saya yang menjadi guru privatnya." "Dia manja." "Akan saya turuti semua inner child-nya."

More details
WpActionLinkContent Guidelines