AD  INTERIM
  • WpView
    Reads 133
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 23, 2019
Hidupku di dasar tebing yang curam, aku berjalan di terowongan gelap Lorong kelasku semakin memudar, ini tidak seperti biasanya Aku sangat tidak beruntung, aku tidak punya peta untuk memberitahu apakah jalan yang aku lewati benar? Tidak ada cara untuk naik, apa yang telah aku alami adalah labirin yang tidak pernah aku inginkan Aku melewatinya dengan keringat dan air mata darah Mereka mengatakan bahwa bukit-bukit seperti itu baru saja aku lewati Jika kau ingin sukses, taruh perangkap yang disebut kegagalan Jadi aku menggigit umpan yang disebut rasa sakit Aku berkeliaran dengan sayap yang terlipat, aku mulai kelelahan Semua rasa semangatku tiba-tiba menghilang untuk sementara waktu Aku sendirian menahan diri dari hari yang kejam dan mengerikan ini Bahkan jika aku mengulurkan tangan, tidak ada yang menggenggamnya Rasa sakitku dan air mataku semakin menjadi.
All Rights Reserved
#433
kelam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • about us and him ✔️
  • Sosiologi Cinta (TAMAT)
  • Kelas A [End]
  • Aku Jatuh dan Cinta
  • My Imagination : Love Without Problem
  • Alca || Selesai
  • The Special Class
  • Countryhumans ( Slice of Life Story )
  • My Friend and My Bestfriend

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines