We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
AD  INTERIM
  • WpView
    Reads 133
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 23, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Hidupku di dasar tebing yang curam, aku berjalan di terowongan gelap Lorong kelasku semakin memudar, ini tidak seperti biasanya Aku sangat tidak beruntung, aku tidak punya peta untuk memberitahu apakah jalan yang aku lewati benar? Tidak ada cara untuk naik, apa yang telah aku alami adalah labirin yang tidak pernah aku inginkan Aku melewatinya dengan keringat dan air mata darah Mereka mengatakan bahwa bukit-bukit seperti itu baru saja aku lewati Jika kau ingin sukses, taruh perangkap yang disebut kegagalan Jadi aku menggigit umpan yang disebut rasa sakit Aku berkeliaran dengan sayap yang terlipat, aku mulai kelelahan Semua rasa semangatku tiba-tiba menghilang untuk sementara waktu Aku sendirian menahan diri dari hari yang kejam dan mengerikan ini Bahkan jika aku mengulurkan tangan, tidak ada yang menggenggamnya Rasa sakitku dan air mataku semakin menjadi.
All Rights Reserved
#53
imajination
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • My Imagination : Love Without Problem
  • Revenant: Kuntilanak Penyelamat
  • Kelas A [End]
  • Shivviness[END]
  • Ilusi
  • My Friend and My Bestfriend
  • about us and him ✔️
  • SUARA BIA (TAMAT)
  • The Special Class
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines