Saat hati dan jiwa terus dihakimi luka, masihkah ada sisa ruang untuk sebuah bahagia?
Aku terus terjebak dalam tanya, "Apa salahku?"
Namun semesta menjawab dengan suara yang sama: "Kamu tidak salah."
Tapi, tepat saat aku bertanya, "Bisakah aku bahagia?"
Luka baru justru datang menghunjam. Bahkan kali ini, ia merobek lebih dalam, menyisakan sakit yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
◆◇◆◇◆◇◆◇
"Hanya butuh satu detik untuk menghancurkan hidup seseorang dengan fitnah, tapi butuh waktu dan kesabaran untuk melihat kebenaran bertahta kembali pada pemiliknya."
Gina Ayunindya hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri. Sejak kecelakaan tragis yang merenggut nyawa ayahnya, Faisal, Gina dicap sebagai "pembawa sial" oleh kakek dan keluarga besarnya. Posisinya sebagai cucu tertua direbut paksa, ia tidak lagi dianggap keluarga, melainkan pelayan yang tenaganya diperas tanpa belas kasihan. Segala haknya dirampas untuk memanjakan Maura, sepupunya yang egois.
Puncak penderitaan Gina terjadi ketika sebuah perjodohan besar direncanakan. Bukannya menjodohkan Gina yang lebih tua, sang Kakek justru memberikan posisi itu kepada Maura demi ambisi bisnis. Untuk menjaga citra keluarga, Gina diusir dan dipaksa "menghilang" selama keluarga calon mempelai pria menginap di rumah mereka. Gina pergi dengan satu tas kain kusam dan hati yang hancur, tanpa tahu harus ke mana.
All Rights Reserved