Saat hati dan jiwa terus dihakimi luka, masihkah tersisa ruang untuk sebuah bahagia?
Aku terus bertanya, apa salahku? Namun semesta selalu menjawab dengan bisu, seolah berkata, kamu tidak salah.
Lalu aku bertanya lagi, bisakah aku bahagia?
Jawabannya justru datang dalam rupa luka yang lebih dalam dari sebelumnya.
◆◇◆◇◆◇◆◇
"Hanya butuh satu detik untuk menghancurkan hidup seseorang dengan fitnah. Namun, butuh keberanian dan kesabaran untuk membiarkan kebenaran kembali mengambil singgasananya."
Sejak kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya, Gina Ayunindya tak pernah lagi dianggap sebagai keluarga. Di mata kakek dan sanak saudaranya, ia hanyalah pembawa sial yang pantas menerima hukuman atas dosa yang tak pernah ia lakukan.
Haknya sebagai cucu tertua dirampas. Kasih sayang yang seharusnya ia terima berubah menjadi hinaan, perintah, dan perlakuan layaknya seorang pelayan. Sementara Maura, sepupunya, menikmati seluruh kemewahan yang seharusnya menjadi milik Gina.
Ketika sebuah perjodohan bernilai miliaran rupiah direncanakan, ambisi keluarga mengalahkan keadilan. Demi mempertahankan citra di hadapan calon besan, Gina dipaksa menghilang dari rumahnya sendiri.
Berbekal sebuah tas kain lusuh dan hati yang telah berkali-kali dihancurkan, Gina melangkah pergi tanpa tujuan. Malam itu, ia tiba di sebuah stasiun. Di tengah dinginnya peron dan suara roda besi yang berderak di atas rel, ia menyadari satu hal...
Masih ada kereta yang lewat.
Dan mungkin, masih ada harapan yang menunggunya di ujung perjalanan.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang