Fragile

Fragile

  • WpView
    Reads 418
  • WpVote
    Votes 67
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 24, 2020
"Ketika hati tak lagi mampu tuk kembali berdiri sendiri"... Mungkin, ketika mengharapkanmu aku memang sudah berada jauh di dalam titik tergila dalam nestapa hidupku.. Membawaku jauh dari realita yang membuatku tak sadar dan bahkan mungkin hingga kini membuatku benar-benar putus asa.. Bagaimana tidak... Ketika hatiku terlalu rapuh untuk diambil dari tempatnya walaupun sudah diminta baik-baik, namun tetap saja, kau mengambil resiko dnegan mencurinya yang bahkan membuatku benar-benar khawatir dan bertanya apakah kau mau mengembalikannya dengan utuh?.. Namun kau malah memberi hatimu sebagai tebusan hatiku yang kau curi.. Biarlah seperti itu hingga selamanya... Aku cukup mengerti untuk tidak pergi begitu saja setelah kini aku memiliki hati yang dapat selalu kugenggam... Meski pun saat ini hatiku dirasa tak lagi mampu tuk berdiri sendiri.. Karena ada kau dan aku memilikimu.. Someone fall in love ~Licandraa
All Rights Reserved
#64
melupakan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Fading Out Flickers
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • Another Me
  • Mahligai Sunyi
  • DikaRanggi
  • Alice [Completed]
  • You're Here, But Not For Me

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines