Hello Reichaa!

Hello Reichaa!

  • WpView
    LECTURES 163
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Chapitres 4
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mer., sept. 9, 2020
"gua cinta sama lo" ucap gadis itu, dia meberanikan diri untuk mengatakan isi hati nya kepada pria di hadapannya ini "Eh inget ya! Gua nikahin lo itu karna bunda lo udah mau meninggal, kalo engga mah gua ogah kali nikah sama lo, ngaca dong lo! Sok bilang cinta. Cantik lo? Dasar gatau malu" ucap pria itu dengan santai nya, ia berbicara tanpa memikirkan hati gadis itu Bendungan air di mata sang gadis tdk bsa tertahan lagi, dia menangis, dadanya sesak mendengar pernyataan suami nya itu "Gua gak nyangka lo bsa ngomong kayak gini, gua nyesel udah jatuh cinta sama lo" Dia berlari meninggalkan pria itu dengan tangisan yang masih terus berlanjut. Sedangkan pria itu, dia melanjutkan game nya tanpa merasa berdosa sedikit pun
Tous Droits Réservés
#228
pengalaman
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Hate To Love♡
  • Dari Benci jadi Cinta || arasweetstrawberry ✔
  • HEARTBREAKING (On Going)
  • My Sweet heart
  • Lelaki Pilihan Ayah & Lekaki Yg Mengagumi Ku [END]✓✓
  • NAYVAN [END]
  • Perder El Amor
  • Because I'm Stupid (End)
  • NEYSHA'S NOTE

Elena Vionata adalah sosok yang tampak memiliki segalanya. Cantik, pintar, kaya, dan populer-hidupnya nyaris sempurna di mata semua orang. Dikelilingi teman-teman dan prestasi, tak ada satu pun yang terlihat kurang dari dirinya. Namun, di balik kesempurnaan itu, ada satu hal yang selalu mengusik ketenangannya. Riyan Kurniawan. Seorang cowok pemain basket yang dikenal bandel, penuh percaya diri, dan tak kalah populer. Dengan pesona yang sulit diabaikan, Riyan justru menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat Elena kehilangan kesabarannya. Anehnya, bukan hanya Elena-Riyan pun seolah selalu punya alasan untuk mengganggu gadis itu. Pertemuan mereka tak pernah diwarnai hal manis, melainkan pertengkaran, sindiran, dan rasa jengkel yang tak ada habisnya. Tapi di balik semua kebencian itu, tersimpan sesuatu yang perlahan tumbuh... tanpa mereka sadari. Akankah rasa benci itu benar-benar hanya benci? Atau justru berubah menjadi cinta yang datang tanpa peringatan.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu