Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua

  • WpView
    Reads 501
  • WpVote
    Votes 70
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 16, 2020
Aku tak pernah minta pada tuhan untuk dihadirkan rasa ini, bukan seperti ini inginku. Tapi apa daya jika tuhan tiupkan cinta itu dalam sanubari hatiku. Salahkah aku? Sedikitpun tidak pernah terbesit untuk memilikimu, pun jua kau mencintaiku kembali. Rasa kagum itu merupakan fitrahnya cinta yang tuhan hadirkan. Terimakasih atas untaian kata-katamu, setidaknya aku sadar siapa aku dan siapa dirimu. Tidak selamanya kehidupan seperti ini. Sekarang aku yang mengagimu, bisa jadi nanti kaulah yang mengagumi dan memintaku kembali Dibaca dulu siapa tau suka. https://my.w.tt/Wbq90kSbN4 Ada beberapa part yang dikunci, agar leluasa membaca cerita ini, silahkan follow dulu athor😉 Aku sangat mencintai laki-laki itu. Tanpa sadar, ada banyak kebodohan yang ku lakukan hanya untuk menggapai cintanya. hinaan caciannya sudah menjadi makanan sehari-hariku, sampai suatu hati terjadilah peristiwa itu. Peristiwa dimana aku harus bertekad kuat untuk meninggalkannya serta melupakan segala hal tentangnya. Aku pergi dengan membawa untaian kata-kata pedih yang sering dilontarkannya. Ia benar, bahkan sangat benar dan aku tidak boleh seperti ini terus, harus ada perubahan yang aku lakukan supaya tidak terlihat bodoh dihadapan banyak orang.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • You are in my past and my future [END]
  • "Singgah"
  • Mahligai Sunyi
  • DikaRanggi
  • Kitab Romancuk
  • SELAMA ITU KAH, APAKAH  KAU AKAN KEMBALI?
  • Happier Than Ever [COMPLETED]
  • Aku Kamu Dan Dia

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines