Friendship Love

Friendship Love

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 29, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
"Dion kau menyukaiku ya? Bilang saja aku sudah tahu semua kok meskipun tidak yakin" ucap Lily sambil mendongak pada Dion. "Jaga ucapanmu itu, mana ada seorang Dion suka dengan wanita kecil seperti kurcaci ini, atau kau yang menyukaiku? Hah". Jawab Dion sambil menertawakan Lily yang percaya diri bahwa Dion menyukainya. "Heii siapa bilang hah, kau bukan tipeku!" Ujar Lily sambil menunjukkan jari jempol kebawah menandakan ia tidak suka. Dibalik itu semua sebenarnya mereka juga saling suka, namun karena mereka kurang percaya diri dan sama sama egois tidak mau mengakui. Padahal menurut orang di sekitar mereka, tingkah laku, sikap dan apapun yang dilakukan mereka sudah kelihatan bahwa mereka memang saling suka dan ada yang mengatakan bahwa mereka sangat cocok. Nah apakah mereka akan mengungkapkan perasaannya, atau mereka memang tidak ditakdirkan bersama?
All Rights Reserved
#788
billionaire
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • My Enemy Is Mine
  • With >> Guanlin
  • CINTA ITU INDAH YA?
  • troublemaker VS ketos! ✔
  • FRIEND WITH BENEFIT (SELESAI)
  • I'm Sorry [END]
  • Terperangkap Dalam Labirin Misteri
  • Un_Lucky [Completed]
  • YES, BOSS ! (SELESAI)

"Iya sih, enggak penting juga. Enggak ada hubungan juga sama gue, cukup tahu aja," Mince mengambil tisu lalu mengusap air mata dan terkekeh. Ia hanyalah sebagian keryawan kecil di sini. "Udah jangan sedih lagi, nanti nyokap lo tambah sedih liat lo kayak gini," "Iya sih," "Makan yuk, udah jam 12 nih, gue laper," Dina menenangkan Mince. Mince menarik nafas menatap form form yang ada di atas meja, "Tapi kerjaan gue banyak," "Udahlah dikerjain nanti aja, lo harus makan dulu biar kuat," "Kuat ngapain?," "Kuat bercinta," timpal Dina. "Itu sih lo, bukan gue," Seketika Dina tertawa ia melirik Mince berdiri di sampingnya, "Bercinta itu asyik tau," "Ya asyiklah, kalau enggak asyik orang enggak mungkin bela-belain bulan madu sampai ke ujung dunia demi buat anak banyak-banyak," ucap Mince asal, melangkah keluar dari office. "Emang lo pernah ngerasain?," "Enggak," "Nanti kalau udah punya pacar dicoba aja," "Ogah," "Enak tau," "Ih apaan sih lo," "Gue pernah coba sama pacar gue, rasanya enak," "Ih ...," "Makanya cari cowok, biar bisa enak-enak," "Ih Dina !, lo apa-apaan sih cerita ginian," "Biar lo tau lah," "Asemmm," Tawa Dina kembali pecah, mereka berjalan menuju EDR. Ia senang melihat Mince kembali tertawa. Ia tahu bahwa wanita cantik ini begitu menyayangi ibunya lebih dari apapun. Sehingga rela menjual barang berharga miliknya demi pengobatan sang bunda. Ia sengaja berbicara seperti ini demi melihat tawa Mince.

More details
WpActionLinkContent Guidelines