Yunina
  • WpView
    Reads 172
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 15, 2020
Jelitaaaaa....... Siapa sih yang gak marah dipanggil begituan,apa lagi sama Abang gue sendiri,setiap hari dia selalu panggil gue jelita. Jelita jelita jelita Arrrrrggghhtttt.... Bukannya gue gak cantik, bukannya gue juga gak manis,bukan juga karena gue gak imut. Disekolah gue cukup populer karena fisik gue gak malu-maluin buat diajak nge-date apalagi dibawa kondangan.tapi dengan seenak jidatnya Abang gue panggil gue je-li-ta alias jerawat Lima juta. Tapi itu gak seberapa hebohnya,lebih heboh lagi pas bonyok minta gue nikah.kawin.married. Lebih parahnya lagi itu cowok ganteng nya kebangetan,jadi susah gue tolakkan??? Ambyarrrrrr hidup gue. Dorrrrrrrrrrrrrrr Mati aja Lo yunina.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Why?
  • Alara's Brothers (Telah Terbit)
  • Bulan [End]
  • When Mom Knows Us
  • Si Cantik Gemoy
  • Cinta Berbentuk Persegi [END]
  • LIGHT
  • ALGARA & ALTARA [End]✓

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines