Candu Carani

Candu Carani

  • WpView
    Reads 2,198
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing51m
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 19, 2020
Sakit yang telah kurasakan di kota asalku beberapa waktu lalu memaksaku tuk pergi ke Jogja. Tak bermaksud aku mencoba melupakan semuanya namun hanya mencari pelampiasan kepada pahitnya kopi yang berada disana berserta suasana yang jauh berbeda. Ku coba bertemu dengan sahabat lamaku disana yang sedang sibuk dengan usaha kedai kopi yang kini cukup terkenal di kota Jogja. Dia mengajarkan ku mengenai filosofi kopi dan bagaimana meracik kopi yang sesuai dengan suasana hati kita. Sebagai kota yang istimewa karena cinta, rindu dan kenyamanannya membuatku ingin sejenak lama disana. Namun ketidaksengajaan itu datang sendirinya, pertemuanku dengan seorang wanita pecinta teh itu fatal. Jogja memberikan benih benih cintanya kepada kita berdua dengan semakin waktu berjalan semua itu benar terjadi, beberapa petualangan kami di Jogja cukup mengesankan dan dirindukan satu sama lain. Sampai pada akhirnya semua tak sejalan demikian, apa penyebabnya? Ikutin ceritaku terbaru ini
All Rights Reserved
#176
romantis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • TAUBAT (Gay's Story)
  • ADA SENJA DI TULUNGAGUNG (MILA)
  • Selagi Bernama Kita
  • Jangan Berpaling Dariku
  • Shinjitsu No Koi
  • Semesta bersama Ziva
  • Nyangga

Hujan jatuh di kota itu seperti benang tipis dari langit, memantulkan lampu neon yang berkedip lelah. Di persimpangan jalan, seorang lelaki berdiri dengan payung miring. Matanya mengikuti sosok perempuan yang berjalan cepat, menunduk, seolah menghindari dunia. Ia tak mengenalnya. Tapi jantungnya memukul seperti lonceng tua yang pernah ia dengar di tempat yang tak pernah ada di peta. Pasar malam di pusat kota menyala dengan warna-warna hangat, tapi suara penjualnya lenyap. Lampion bergoyang tanpa angin. Dan di sela-sela kerumunan yang tiba-tiba membeku, mata perempuan itu-mata yang sama seperti di hutan yang dulu ia tinggalkan-menatapnya. Di ujung sebuah lorong, bioskop tua berdiri sendirian. Dindingnya berlumut, pintunya berdebu, tapi dari celahnya keluar denyut cahaya yang tidak berasal dari proyektor. Pintu itu tidak ada kemarin. Dan besok, mungkin akan hilang lagi. Di rel kereta yang berkarat, cahaya asing turun seperti aurora yang tersesat. Bayangan-bayangan panjang menari di aspal, memanggil nama yang sudah lama tak diucapkan. Di sebuah gang buntu, sebuah toko buku yang tak pernah buka di siang hari menyimpan peta kota yang tidak pernah dicetak. Dan di bawah tanah, pasar gelap menjual kompas yang selalu menunjuk ke arah yang salah. Langit retak di atas jembatan. Retakannya halus, seperti kaca yang dicakar dari sisi lain. Di baliknya, bukan hanya bintang, tapi hutan dengan akar yang menjuntai, menggapai kota seperti jemari yang lapar. Di tengah semua itu, ia berdiri. Ia-yang dulu meninggalkan segalanya di hutan tak bernama-kini kembali, bukan sebagai Alea, tapi sebagai seseorang yang dipanggil Katiya. Ia tidak ingat siapa dirinya. Tidak tahu mengapa setiap langkahnya membuat kota ini makin kehilangan bentuk. Dan di ujung segalanya, ada pintu. Pintu yang tak bernama. Pintu yang hanya terbuka sekali-dan menuntut satu jiwa untuk menutupnya. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines