Candu Carani

Candu Carani

  • WpView
    Reads 2,198
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing51m
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 19, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Sakit yang telah kurasakan di kota asalku beberapa waktu lalu memaksaku tuk pergi ke Jogja. Tak bermaksud aku mencoba melupakan semuanya namun hanya mencari pelampiasan kepada pahitnya kopi yang berada disana berserta suasana yang jauh berbeda. Ku coba bertemu dengan sahabat lamaku disana yang sedang sibuk dengan usaha kedai kopi yang kini cukup terkenal di kota Jogja. Dia mengajarkan ku mengenai filosofi kopi dan bagaimana meracik kopi yang sesuai dengan suasana hati kita. Sebagai kota yang istimewa karena cinta, rindu dan kenyamanannya membuatku ingin sejenak lama disana. Namun ketidaksengajaan itu datang sendirinya, pertemuanku dengan seorang wanita pecinta teh itu fatal. Jogja memberikan benih benih cintanya kepada kita berdua dengan semakin waktu berjalan semua itu benar terjadi, beberapa petualangan kami di Jogja cukup mengesankan dan dirindukan satu sama lain. Sampai pada akhirnya semua tak sejalan demikian, apa penyebabnya? Ikutin ceritaku terbaru ini
All Rights Reserved
#678
jogja
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jangan Berpaling Dariku
  • ADA SENJA DI TULUNGAGUNG (MILA)
  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • My Love in Air
  • Shinjitsu No Koi
  • Semesta bersama Ziva
  • Nyangga
  • TAUBAT (Gay's Story)

Berkahwin dengan lelaki yang dia cinta merupakan impian dalam hidup Aina. Bahagia... itu yang dia mahu bersama Benjamin. " Sampah apa yang kau bagi pada aku ni?" kasar suara Benjamin menyoal. Aina mengambil dokumen yang dilemparkan Benjamin di atas meja lalu dia membelek sekali lagi. Rasanya tiada kesilapan yang dia lakukan kerana dia telah menyemak berkali-kali sebelum menghantarnya kepada Benjamin. " Erk... ini kan dokumen yang Encik Benjamin suruh saya buat." Aina membalas perlahan. Dan dia rasa ingin menampar mulut sendiri kerana menjawab. " Ini bukan dokumen yang aku suruh kau buat tapi ini sampah! Benda macam ni patut masuk dalam tong sampah, bukan kat atas meja aku!" Benjamin membentak kuat. Namun hidupnya seakan tercampak ke dalam lembah kedukaan bila Benjamin sering menolaknya jauh dari sisi. Bertahan atau mengalah... apa yang harus dia lakukan? Dibenci suami sendiri, sanggupkah Aina bertahan di sisi Benjamin?

More details
WpActionLinkContent Guidelines