SENJA
  • WpView
    Reads 252
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 5, 2020
Senja Kalinda Aditya adalah remaja yang sangat ceria bahkan murah senyum, tetapi keceriaan itu direnggut darinya ketika ayahnya mengalami kecelakaan beruntun tepat pada hari ulang tahun Senja, sehingga menyebabkan ayahnya meninggal dunia. Sejak kejadian itu Senja menjadi anak yang lebih banyak diam dan menutup diri dari teman-temannya. ° ° Senja sempat jadi korban bullying disekolahnya, banyak anak yang meledek bahwa Senja adalah penyebab ayahnya meninggal dan lebih parahnya ada yang membully Senja sehingga membuat dia mengalami fobia sosial (fobia ini sangat mempengaruhi kepercayaan diri seseorang dan akan membuat orang yang mengidapnya mengalami ketakutan jika harus berhadapan dengan situasi sosial contohnya jika harus tampil di depan banyak orang) dan karena pembullyan itu Senja harus pindah ke sekolah lain. ° ° Awalnya Senja merasa takut untuk beradaptasi disekolah barunya, tetapi berkat seseorang Senja jadi lebih berani, tetapi Senja juga harus tetap waspada agar kejadian yang membuat dia down tidak terulang lagi. ° ° Akankah Senja bisa mengatasi fobianya, atau disekolah barunya dia malah akan mengalami hal serupa? ° ° ° ° ° Penasaran? Jangan lupa baca ceritanya ya hehee >-< Semoga kalian suka sama ceritanya... Kalau suka jangan lupa tambahkan ke daftar bacaan kalian 😊 Sebelumnya mohon maaf jika ada kesamaan nama, tempat, dsb. Selamat membaca kawan² :))
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • SENJA (Revisi 2023)
  • 00.00
  • KEPERGIAN SENJA
  • Oranye Di Langit Senja
  • Story About Him (SELESAI)
  • ZENARZEL [SELESAI✔]
  • Valcano
  • Paradise

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines