BAHAMARIANTI [PUISI KATA - COMPLETE]

BAHAMARIANTI [PUISI KATA - COMPLETE]

  • WpView
    Reads 54
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 23
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 21, 2020
Sebuah nama dari seseorang yang sempat baku sayang menjadi rutinitas. Yang sempat memberikan senyum manis ikhlas kala melewati trotoar fakultas. Yang sempat menjadi prioritas tanpa batas. Ya... Nama kecil itu telah merangkum dari cerita-cerita yang belum tuntas. Dalam hitungan minggu cerita antara aku dan dia yang sangat terbatas. Sehingga kutulis puisi-puisi keseharianku dikala ia dipikiranku tak sengaja terlintas Tak ada maksud apa-apa, hanya saja dengan dia, aku yakin puisiku karenanya menjadi memiliki kualitas. Demikian kumpulan puisi tentang beberapa aktivitas. Buah kreativitas dari seorang humanitas yang mengharapkannya, sudah menjadi sisa pubertas. "entah sampai kapan gelap dan terangku masih menjadi singgasananya," dua ribu sembilan belas.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • Rembulan Yang Sirna
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)
  • My Wish
  • 365 HARI BERCINTA DENGAN PUISI
  • poem
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • Semua Memukul (✅)

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines