Cinta Benci dan Pengkhianatan

Cinta Benci dan Pengkhianatan

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 1, 2020
Apakah mencintaimu harus sesakit dan sesulit ini? Apakah tidak bisa aku merasakan cinta sejati?-Zahra Maafkan aku karena keegoisanku kita hancur. Aku mencitaimy tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa pada saat itu.-Agung Apapun yang terjadi kau harus jadi milikiku. Walaupun dengan cara kotor akan aku lakukan demi cintaku padamu. -Aulia
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Berlutut atau Memohon ? : Lakukan Keduanya
  • bertahan dari semua luka
  • Doctor Lil-Daddy [END]
  • Single mom
  • save me
  • Saat Semua Orang Berpaling
  • HE IS MY MINE!
  • Dear... Nadin From *Anonymously*[Selesai√]

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines