A BOSS DESIRE

A BOSS DESIRE

  • WpView
    Reads 46,350
  • WpVote
    Votes 1,019
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 10, 2020
Warning: Mengandung unsur 21+ mohon bijak memilih bacaan Warning: Mengandung unsur 21+ mohon bijak memilih bacaan "Manja amat siih, gitu doang, sampai bangunin orang lagi tidur. Ya kan sayang? Semalam kan kita kecapean banget. Kamu sih minta nambah terus, aku lemes banget ini, gak bisa bangun. Tolong bopong aku ke kamar mandi dong." Suara seksi Krista membuat Ganda tambah mendelik. Pias, pucat bagai tak beralir darah di wajah tampannya, Ganda melihat ke arah Krista dan Gadis, bergantian. Dilihatnya tubuh molek Krista tanpa sehelai benang pun bahkan tiada selimut yang menutupi gunung kembarnya itu. Ganda menelan ludah melihat banyaknya kissmark, tidak hanya di payudara montok itu, tapi di leher dan juga perut rata Krista. Semalam...? Apa yang sudah kulakukan semalam? Kenapa aku sama sekali tidak ingat? Aarrgh alkohol sialan! Apakah aku dan dia benar-benar.... haaah cewek jalang sialan! *** Bruuuk... Terdengar bunyi tubuh Gadis beradu kasur, Ganda membantingnya kasar. Gadis menangis, tidak mau membayangkan apa yang akan Ganda lakukan padanya. Dia menggeleng-geleng. "Pak.. jangan... tolong jangan... Saya mohon pak, sadarlah..." Rintih pilu Gadis saat Ganda sudah membuka t shirt dan celana panjangnya. "Mohon katamu? Ke mana pongahnya Gadis yang tadi hah? Sekarang menangis, memohon? Ini yang kamu mau kan?" Tanpa ampun Ganda merobek dress bunga tulip Gadis, menindih tubuh itu, merobek paksa bra yang dipakai Gadis. Terpampanglah apa yang menjadi idaman setiap lelaki pada semua gadis. Kulit kenyal dan halus, belum terjamah siapa pun. Ganda menindih Gadis, memaksanya untuk menerima ciuman kasarnya. "Jangan pak... Tolong hentikan... Ya Tuhan." "Jangan bawa nama Tuhan di sini! Kamu ingat itu kan? Sekarang kita nikmati saja saat ini dan kamu akan jadi milikku, utuh."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SECRETARY BOSSY (21+)
  • Honor In Vengeance (END) ✅
  • Dilema Sang Sekretaris (21++)
  • SCHOOL AFFAIR [REVISI ALUR]
  • Hutang Dibayar Ranjang (21+)
  • The Tycoon's Scandal
  • My Sugar Daddy(END)
  • His Secret Child
  • Beautiful Madness (21+) - The "B" Series #1✔
  • ARTHABELYN
  • My Partner In Sex [Re-Upload]
  • Mengejar CEO Tampan
  • The Price of Obedience
  • TIFFANY [END]
  • DINIKAHI PAK DUDA
  • Hold Me With Your Lies [END]
  • Dear Husband [TAMAT]

Warning...! Adult 21+ . . . " Terimakasih saja tidak cukup, sayang..." ringis Barrack menatap ke dalam manik Helena. Helena memutar bolanya ke atas, sungguh ia bertahan membetengi hatinya selama bertahun - tahun agar tak jatuh pada pesona atasannya ini. " Baiklah selesai... mungkin anda harus istirahat sejenak. Mengingat pipi anda masih memerah, Mr...." Helena membereskan obat - obat yang barusan ia gunakan untuk mengobati pipi Barrack, hendak bangun dari posisinya. Barrack mencekal pergelangan tangan Helena. " Kau tau... aku tak bisa membayangkan. Ada lelaki lain menyentuhmu, apalagi menampar pipimu ini..." Barrack memandang lekat manik Helena, mengusap lembut pipinya. Helena menutup matanya merasai kehangatan dari usapan lembut Barrack dipipinya. Helena kalah, benteng pertahanannya runtuh. Merasakan kehangatan dan kelembutan yang diberikan Barrack padanya. Perlahan Helena membuka matanya, menundukkan kepala, menuju wajah Barrack yang berada di atas pahanya, bibirnya bergerak menuju bibir Barrack. Barrack terlampau kaget dengan gerakan tiba - tiba Helena, namun tak urung ia perlahan menutup matanya merasai kecupan Helena dibibirnya. Hanya beberapa detik, Helena kemudian melepaskan ciumannya dibibir Barrack. " Ciuman itu jangan nanggung, Helen..." Barrack bangun mengambil posisi duduk, tangannya terjulur menuju leher Helena, ditariknya kepala Helena, didekatkan wajahnya, bibirnya langsung melumat bibir Helena. . . .

More details
WpActionLinkContent Guidelines