FIST AND ROMANCE [REVISI]

FIST AND ROMANCE [REVISI]

  • WpView
    Reads 384
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 20, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Terlahir di dunia ini hanya untuk mengakhiri ini. Pendidikan disamping kehidupan yang semena mena. Akal sehat dan kekerasan diharuskan bertahan hidup bersama. Sekolah ku adalah Medan perang, jika kau bisa bertahan atau tidak peduli dengan lingkungan mu, aku bisa mengatakan kau hebat. Puluhan aturan, untuk mengatur ratusan yang disebut siswa, ku koreksi, untuk mengatur setengah dari ratusan idiot yang sedang mencari jati diri? Kurasa. Dan seper-empatnya lagi bisa berupa samsak, alat pembeli makanan, dan tarik tunai pribadi. Mereka bertingkah seperti itu, hanya karena tidak ada yang bisa menjinakkan mereka, apa yang kau butuhkan untuk hewan hewan seperti itu? Yap sang Raja. Raja untuk mengatur mereka, atau mereka sendiri yang menginginkan menjadi raja itu?. Kesampingkan hal itu, aku adalah protagonis disini, kepribadian ku baik, aku tampan dan ber-uang, itu uang ayahku. Yah itu sebelum aku masuk dalam lingkaran setan yang penuh dengan masalah ini, dan menjadi protagonis dengan kehidupan yang misterius, sedikit licik, dan penganut kesetaraan gender.
All Rights Reserved
#332
raja
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RIMBA MERUN
  • GARAYA : Pair Of Lose Colors ( SEGERA TERBIT)
  • 𝐓𝐄𝐑𝐄𝐒𝐀 𝟐
  • "He's mine"
  • My cool badboy [LENGKAP]
  • ELGAMA
  • KAISAN ; Yang Tenggelam Di Lautan Lara
  • GISTARA (END)
  • JULIE 'I'm not a BadGirl '

Di Rimba Merun, kami belajar di sebuah sekolah kecil yang nyaris tak pantas disebut sekolah. Atapnya bocor. Dindingnya reyot. Buku-bukunya lebih tua daripada sebagian guru kami. Tetapi dari tempat itulah kami mengenal dunia-aku, Elang yang terlalu pintar, Badar yang hampir selalu mendapat nilai nol tetapi mampu membaca sungai seperti buku, Lee, Boih, Munisa, Seruni, dan anak-anak lain yang percaya bahwa kehidupan tak mungkin lebih rumit daripada ujian Matematika. Kami keliru. Hari-hari kami sebelumnya hanya dipenuhi perkara-perkara penting: menangkap ikan di Way Semah, melempar batu sampai dua puluh pantulan, berlari tanpa alas kaki, menghindari hukuman guru, dan mempertaruhkan harga diri dalam perlombaan-perlombaan yang hadiahnya bahkan tidak ada. Sampai suatu hari, orang-orang asing datang ke Rimba Merun. Mereka membawa peta tanah. Lalu menancapkan patok-patok ke tanah yang sejak lahir kami anggap milik kami. Awalnya kami tidak peduli. Orang dewasa selalu mempunyai urusan aneh yang tidak menarik bagi anak-anak. Namun patok-patok itu semakin banyak. Hutan mulai ditandai. Tanah mulai diukur. Orang-orang Dusun mulai berbisik. Dan suatu hari kami menyadari sesuatu. Garis patok itu menuju sekolah kami. Saat itulah permainan berakhir. Kami hanyalah anak-anak dusun. Kami tidak mempunyai uang, kekuasaan, ataupun orang penting yang bisa dimintai pertolongan. Yang kami punya hanyalah sebuah sekolah reyot, persahabatan, beberapa sepeda tua, keberanian yang kadang muncul pada saat yang salah-dan Elang, yang mulai mencurigai bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di Rimba Merun. Kami belum tahu bahwa usaha mempertahankan sekolah kecil itu kelak akan membawa kami berhadapan dengan orang-orang yang bahkan orang dewasa takut menyebut namanya. Dan kami sama sekali belum tahu bahwa suatu hari nanti, sebuah kata akan dituduhkan kepada kami. MAKAR. Padahal waktu itu, kami bahkan masih kesulitan memahami perkalian tujuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines