Destiny (JINRENE AU)

Destiny (JINRENE AU)

  • WpView
    LECTURES 52,924
  • WpVote
    Votes 6,288
  • WpPart
    Chapitres 35
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mer., nov. 2, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Disaat dua insan manusia berusaha saling menghindar tetapi malah semakin tenggelam dalam hidup satu sama lain.. Bisakah mereka terus menghindari takdir? Angga. "Ngga mungkin lah aku bisa suka sama perempuan seperti ini. No no no. Big no! She's not my type." Aya. "Waduh, apa jadinya kalau gw naksir orang kaku dan menyebalkan macam dia? Ngga mauuu.."
Tous Droits Réservés
#954
irene
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • BACK TO FRIEND | JUNGHWAN X HAERIN (TAMAT)
  • Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
  • Save Your Tears [JINRENE] √
  • serendipity [END]
  • Perfect For Life
  • She
  • That Damn Fate! [END]
  • Bukan jodoh||NoMinSung [END]
  • Friend Zone ! [END]
  • My Regret

Bagi banyak orang, Teresa dan Lionel tak lebih dari dua orang asing yang kebetulan duduk di kelas yang sama-tanpa kisah, tanpa kenangan. Tapi di balik diamnya mereka, tersimpan cerita yang pernah begitu hidup di kota kecil jauh dari Jakarta. Dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang saling menggenggam erat di Inggris, menjadikan satu sama lain rumah dalam dunia yang asing. Namun, tidak semua kisah indah berakhir bahagia. Sebuah pertengkaran hebat memutuskan benang di antara mereka. Lionel kembali ke Jakarta lebih dulu, meninggalkan Teresa dalam ketidakpastian yang mengikis perlahan. Sejak hari itu, keduanya tak pernah saling mencari, seolah ingin berpura-pura bahwa cinta itu tak pernah ada. Dua tahun berlalu. Takdir mempertemukan mereka kembali-bukan di kedai kopi tempat mereka biasa tertawa, bukan di taman tempat mereka dulu saling menatap, tapi di sekolah yang sama, di kelas yang sama. Kini mereka berdiri di bawah atap yang serupa, namun dengan jarak yang jauh lebih dingin dari sebelumnya. Mereka tidak berbicara. Tidak saling menyapa. Hanya tatapan yang sesekali bertabrakan-penuh amarah yang tertahan, rindu yang tak diakui, dan bayang-bayang masa lalu yang belum benar-benar mati. Mereka mencoba menjadi asing, tapi hati tidak pernah bisa benar-benar lupa. Dan pertanyaannya kini sederhana: apakah kisah ini akan berakhir sebagai dendam yang terus tumbuh, atau diam-diam menjadi awal dari pertemuan yang tak pernah mereka duga?

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu