Latte

Latte

  • WpView
    Reads 1,039
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 14, 2020
Hidup dengan dua sisi penampilan yg bertolak belakang karena sebuah alasan. Tapi menurutku itu sama saja. Kalo kalian jelek, cupu, penyendiri pasti dijadiin sasaran buat diledek. Kalo kalian cantik pasti banyak yg iri dengan kalian dan akhirnya gak sedikit yang gasuka. Dan dari semua itu mengakibatkan aku bertemu dengannya dan terjebak dalam perasaan yg bisa membuatku tak dapat memahaminya. Ehh latte urus tuh kaca mata lo Si latte masuk tuh Rambut kuda besok ganti dah rambut lu jadi rambut b*bi Kayak gaada gaya lain aja lu jadi cewek tuh blablabla... Oke itulah yg aku rasain selama ada di kelas. Awalnya sih bodo amat selagi mereka gak main fisik. Toh biar aja mulut mereka capek sendiri. Tapi lama kelamaan aku capek gini terus. ~Aletta kairin ariesta
All Rights Reserved
#69
boys
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Reynand & Joya | END
  • My Bully My Obsession (GxG)(Season 1)
  • Axevier
  • troublemaker VS ketos! ✔
  • Be my Sweet Darling  [END]
  • ⁿˢᶠʷ🔞𝐌𝐀𝐑𝐊𝐇𝐘𝐔𝐂𝐊
  • Tunangan sang protagonis
  • OSIS OR OH SHIT?!

Follow sebelum baca yuk, untuk mengikuti ceritanya. #645 dalam TEEN FICTION-11/3/2018 #961 dalam TEEN FICTION-9/2/2018 "Kuda poni! Dasar jelek, sinting, kutu kupret, tai lo. Maju sini, gue telen lo hidup-hidup!" teriak Joya mengerahkan semua kekesalannya. Ia bersumpah serapah tanpa berpikir mengampuni orang yang sudah membuat hidupnya sengsara. "Nggak usah teriak-teriak, gue di sini." Suara orang tersebut berada di atas pohon dekat parkiran. Reflek, kedua gadis itu menengadah, menatap pemuda nakal yang nangkring di atas sana. "Turun lo!" perintah Joya seraya berkacak pinggang. "Mau apa? Mau cium gue, ya? Idih nakal." Pemuda itu malah membuat Joya semakin kesal. Ocehannya selalu saja ampuh membuat hari-hari gadis itu semakin runyam. "Najis. Mati aja lo, pengecut!" Joya masih kesal, sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu tidak terkontrol. "Kurang banyak sih, 'kan cuma kempes, nggak sampai penyok." Rutinitas nakalmu berujung terbiasa. Kalo pengen tau terutama Baca selengkapnya ya..... (Di larang mengutip atau menjiplak sebagian/keseluruhan cerita ini tanpa izin)

More details
WpActionLinkContent Guidelines