Air Mata Istanbul
Aku tumbuh bersama kota ini-dari kejayaan Kekhilafahan hingga saat panji-panji terakhirnya diturunkan. Dulu, suara azan menggema tanpa ragu, para ulama dihormati, dan kisah kejayaan diceritakan dengan penuh kebanggaan. Tapi perlahan, semuanya berubah.
Ketika suara azan yang dulu menggetarkan hati mulai asing di telingaku, aku bertanya-tanya-apa yang sebenarnya telah hilang dari kami?
Dari jalanan Fatih hingga lorong-lorong Istana, dari pelajaran di mektep hingga teriakan di alun-alun, aku menyaksikan orang-orang yang meneriakkan kebebasan sekaligus meruntuhkan tempat berpijak mereka sendiri. Ketika hukum-hukum yang dianggap usang digantikan, dan tanah kelahiranku tak lagi terasa seperti rumah, aku mulai bertanya-apakah ini harga dari kemajuan, ataukah kita sedang kehilangan sesuatu yang lebih berharga?
Ini adalah kisah Istanbul yang menangis, dan aku, tumbuh bersama air matanya.