Cukup Diam (Revisi)

Cukup Diam (Revisi)

  • WpView
    Membaca 268
  • WpVote
    Vote 25
  • WpPart
    Bab 5
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Mei 16, 2020
Kenyataan nggak akan bisa berubah, walaupun kenyataan ini membuat diri ini sakit. Dengan cara diam aku yakin bisa melewati kenyataan ini. Cukup diam untuk hari ini esokk dan seterusnya jangan. Kenyataan yang di Terima syakila yang langsung dia dengar dari mulut orang yang sangat dia sayangi, yang sangat dia cintai, membuat hati nya terasa sesak. Diam seribu bahasa adalah caranya Syakila meyakini setiap kesedihan dan kekecewaan pasti akan datang kebahagiaan Dan itu benar adanya Sejak mengenal -dia hatinya terasa tak menentu, syakila tidak pernah membayangkan jika hatinya terasa tak menentu sebelumnya dia tidak pernah merasakan hatinya seperti ini, bahkan sikap syakila kian hari kian berubah dari hari hari sebelumnya entah apa yang dimiliki seorang lelaki itu sampai sampai membuat syakila seperti itu. **** "Apa bedanya kamu sama matahari? Kalo matahari menyinari bumi kalo kamu menyinari hatiku" Ujar galang sambil mengedipkan sebelah matanya "Beribu-ribu pohon beringin hanya satu pohon randu Saat malam terasa dingin Hanya wajahmu yang aku rindu" Balas Juno kepada galang sambil menaik turunkan sebelah alisnya Galang dan Juno pun tertawa terbahak-bahak "Gila lo pada kelamaan jomblo kayak nya, jadi kayak gini" Galang dan Juno melihat jengah ke arah vega (penasaran dengan cerita nya? yuk baca aja langsung)
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#208
teenfanfiction
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • ALDIR (SEGERA TERBIT)
  • dimana janji tersebut
  • Empty | 00L NCT Dream
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Trasmigrasi Queenzee
  • VALOROUS
  • langit biru
  • Sudut pandang (felisha)

Denting luka dan riuh kehilangan berbaur jadi satu. Pecahan-pecahan perasaan berserakan di lantai jiwa kita. Rahasia yang terlalu lama disembunyikan kini berubah menjadi beban yang tak tertanggungkan. Kita mulai kehilangan-satu per satu. Kejujuran ternyata bukan hanya soal berkata benar, tapi soal keberanian untuk menanggung luka setelahnya. Kita takut berbagi sakit, takut menumpahkan amarah, takut mengakui betapa bersalahnya kita. Dan ketika semuanya pecah, hanya diam yang tersisa. --- "Dirta, jaga mereka baik-baik, ya? Aku pergi duluan. Aku sayang kamu..." - Aletha

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan