Treasure, Trust, Treason

Treasure, Trust, Treason

  • WpView
    Reads 125
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 12, 2020
Jayanegara, Gadjah Mada dan Ra Kuti. Dipertemukan dalam satu tragedi. Trowulan yang termahsyur menjadi saksi bisu pertemuan pilu tersebut. . "Aku dibesarkan dalam kesengsaraan di tempat itu. Jika memang harus mati, maka aku harus tiada dalam kesengsaraan di tempat itu juga." . "Dia orang yang baik, jika dia sampai berbuat kesalahan. Maka aku pastikan, kesalahannya menjadi penyesalan pertamamu." . Antara tahta yang salah digenggam. Kepercayaan yang diruntuhkan. Serta penghianatan yang berada di atas derita. Gadjah Mada berdiri dengan kesetiaan dan berakhir dalam penyesalan - Kau bagian dari tragedi ini, Mada. Jadi ambilah sebagai penyesalanmu! Biarkan sejarah mencatat ini dalam dilemanya." "Dalam dilema itu, biarkan mereka mengenalmu sebagai pembunuh. Pembunuh rajamu." . . . Sebuah three-shot yang terinspirasi dari kisah awal ketenaran nama Gadjah Mada sebelum dirinya diangkat menjadi patih kenamaan Majapahit. Jika terjadi perbedaan kisah dengan sejarah aslinya. Maaf ya. Hanya orang biasa yang suka sejarah tapi bukan sejarawan.
All Rights Reserved
#29
trowulan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GARBHAPATI
  • Lintang Di Langit Majapahit [END]
  • RESURGERE: The Andalas of Nusan [CH]
  • KIDUNG JAYANEGARA: Nyanyian Jiwa yang Belum Usai
  • Shadows of the Past
  • GAJAH MADA ; Megat Roso
  • Prambanan Obsession (END)
  • Pendekar Dari Pajajaran
  • SINGASARI, I'm Coming! (END)

Tinta emas menuliskan kemasyhuran Wilwatikta yang agung; puja-pujian bagi darah campuran pengkhianat dan pejuang yang bersatu, melahirkan raja-raja Jawa. Tak terhapus, namun namanya tercela sepanjang aksara pujangga yang menuliskannya: Jayanegara-yang kotor, tamak, rakus, dan cacat. Jayanegara, Yuwaraja yang hina, tiada sebaik-baiknya Maharaja Majapahit. Ia tumbal demi kemurnian tahta, kekuasaan fana yang ditebus leluhurnya dengan pertumpahan darah Mahisa Campaka dan perebutan singgasana yang berlumur durhaka. Dan kini, ramalan menggantung di ubun-ubunnya: wafatnya akan seiring dengan kecewanya Roro Sekarwuning, di bawah naungan Wintang Alit yang murka. Semesta mendengar tangisnya yang patah, mendengar amuknya yang terpendam dalam sunyi; dendam disemai, dan segala kutukan Kala menghantam jiwanya tanpa ampun. Seluruh jagat raya menolak kehadirannya, mengutuk setiap tapak yang ia tinggalkan di bumi. Namun Sanghyang Tunggal, dalam Krodha-Nya yang menggelegar, mengabulkan doa-doa Jayanegara yang terisak di antara dupa dan darah: terlahir kembali dalam perwujudan pria milenial abad ke-21, mengembara mencari cintanya yang hilang, memungut serpihan jiwa yang telah lama lenyap, di bawah bayang-bayang Kala Ratri yang tak pernah tidur. Indonesia, ranahasmoro. ©(2025-2026) [ Perlu diingat bahwa cerita ini merupakan karya fiksi dan fantasi. Beberapa elemen mungkin tidak sesuai dengan sejarah atau kenyataan. Hak cipta dilindungi. ]

More details
WpActionLinkContent Guidelines