Psycopat

Psycopat

  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 15, 2020
"Apa yang kamu lakukan!" Bram berteriak padaku. Sebenarnya aku sengaja menumpahkan kopi diatas laptop kerjanya. Aku sangat membenci pira itu, pria yang merebut kebahagiaanku dengan ibuku. Setelah ayah kandungku meninggal karena sebuah kecelakaan lalu lintas. Ia datang kepada ibu dan melamarnya. Sudah sekitar 2 tahun kami tinggal bersama. Namun sifatnya padaku tak pernah baik. Setiap kali aku bercerita pada ibu, ibu tak pernah percaya padaku dan pada akhirnya semua cerita itu hanya aku simpan sendiri. Aku berfikir bahwa suatu saat ibu akan mengatahui semua sifat ayah dengan sendirinya.
All Rights Reserved
#126
psycopat
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Remembrance
  • sraddah (on going)
  • POSESIF (END)
  • ngger adalah vandyku
  • MEMBUAT SUAMI MENYESAL
  • BYE, MANTAN! (TAMAT)
  • Sehari Untuk Selamanya
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • DEVIL ON MY WINDOW
  • Elemen Academy-COMPLETE✔

"Jangan pernah menyakiti hati penulis atau kamu akan abadi dalam karyanya." Aku menyukai kalimat itu yang entah pernah lihat atau baca di mana. Tapi, tak pernah kupikir sebelumnya bahwa hal tersebut akan menimpaku. Aku tahu, aku bukan penulis. Aku hanya memiliki hobi menulis, dan memang sudah pernah menerbitkan salah satu karya. Namun, tak pernah kubayangkan akan membuat suatu kisah dari seseorang yang kini ku namai sebagai kenangan. Aku hanya ingin ia abadi dalam karyaku, walau tak bisa kumiliki di kehidupan nyata. Ingatanku tentangnya tak pernah hilang. Mungkin akan membekas seumur hidup. Namun, dia hanya kenangan, sedangkan, aku punya perjalanan yang layak ku abadikan juga. "Ada hal yang ingin ku ulang kembali, aku tidak ingin mengenalmu." _________ "Saat aku membaca bahwa jangan pernah menyakiti hati penulis, atau kamu akan abadi dalam karyanya. Dan, ketika memutuskan untuk menuliskan kisah tentangnya, aku memang membencinya, tapi aku ingin mengenangnya." ---------- Cover by pinterest

More details
WpActionLinkContent Guidelines