The Other Side (Dia yang berbeda)

The Other Side (Dia yang berbeda)

  • WpView
    Reads 55
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 13, 2020
WpInfo
Fiction
Science Fiction
Langit jingga ini, udara lembab dan dingin ini, suara kedamaian ini, Aku pasti akan merindukan semuanya. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku juga tidak tahu bagian akhirnya. Kau tahu, tetanggaku pernah bilang, rasa sayang yang berlebihan kepada 'orang lain' itu tidak baik. Rasa sayang bisa menjadi pengantar isi hatimu kepada orang 'itu' atau bisa juga menjadi pengantar 'nyawamu' kembali kepada pemilik aslimu di alam sana. Apakah aku akan mati? Kurasa, hanya aku yang tahu jawabannya. Kupejamkan mataku, kuhirup dalam-dalam udara dari angin senja terakhirku. Jam ini, menit ini, dan detik-detik ini akan segera berakhir. "3... 2... 1..."
All Rights Reserved
#34
fantasteen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pertemanan di balik Kutukan [On Going]
  • Dependency ✓ [Sudah Terbit]
  • Paradise
  • Mahligai Sunyi
  • SENJA KU SENJA MU
  • Revenant: Kuntilanak Penyelamat
  • The Fate Of My Life (END)
  • EGLANTINE ㅡ'Na Jaemin'

🥀Cerita ini 100% karangan dari saya sendiri jadi mohon di hargain, jika memang tidak suka maka tidak usah di baca dan jika suka jangan lupa beri vote dan komen yaksss!!! ⚠️ INGAT DI LARANG PLAGIAT, COPY PASTE, MENIRU, MENJIPLAK, ATAU SEJENIS NYA. DON'T! Saya mungkin tidak tahu tapi allah tahu. Rintik hujan perlahan jatuh dari langit kelabu, tetesannya menimpa tanah kering dan retak, menciptakan lingkaran-lingkaran kecil yang segera lenyap bersama debu. Namun tak lama, langit seolah tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Hujan turun semakin deras, membasahi tubuh seorang gadis yang berdiri diam di tengah kehancuran. Luka menganga di hampir seluruh kulitnya, darah mengalir perlahan, menyatu dengan air hujan yang mengalir di tanah. Namun ia tetap tak bergerak. Pandangannya kosong, tatapan hampa tanpa harapan, seolah jiwanya telah pergi jauh meninggalkan raganya yang lelah. Di sekelilingnya, dunia yang dulu penuh kehidupan kini tinggal puing dan arang. Tanah yang dulu dihiasi hamparan rerumputan hijau telah terbakar hingga hitam dan tandus. Pohon-pohon yang dulunya menjulang kokoh kini rebah, patah, dan hangus, tak menyisakan satupun daun yang selamat. Segala yang dulu indah, kini lenyap tanpa jejak, tersapu oleh sesuatu yang lebih kejam dari waktu, kehancuran yang tak memberi ampun. "Aku menghancurkan semuanya ... Aku seorang monster!" bisiknya lirih, dan setetes air mata mulai mengalir keluar dari ujung matanya, tak bisa dibedakan apakah itu air hujan atau air penyesalan. "Aku menyakiti orang-orang, aku membunuh orang tak bersalah ... Aku benar-benar seorang monster!" Air matanya menetes, bercampur dengan darah dan hujan. Dan dari bibir pucatnya, hanya satu kalimat yang terus berulang kali dia ucapkan, seperti sebuah mantra penyesalan yang tak berujung. "Maaf ... maafkan aku ... maaf ...." Dibuat : Rabu/13/April/2023 Selesai : ??? Written by :AYA_MNK ©hak cipta dilindungi Allah SWT

More details
WpActionLinkContent Guidelines