We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Jika Kita Menyerah

Jika Kita Menyerah

  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 12, 2020
WpInfo
Non-Fiction
Apalagi yg bisa ku lakukan untuk membebaskan diri dari keputihan dan kekecewaan hidup. Selain dengan buku-buku ini. Kehilangan, di tinggal kan, tidak berharga, kesepian, kesedihan, terlupakan, bahkan tak ternilai, dan juga kesulitan hidup. Semua membuat nafas seketika berhenti. Lantas ketika lelah mulai berbicara, apa yg terjadi jika kita menyerah? Cerita ini bukan obat untuk lukamu, atau mengobati sakit hati mu. Tapi cerita ini adalah pemandu dan pembangkit kekuatan untuk memperjuangkan apa yang masih bisa di perjuangkan. _N. Alzena
All Rights Reserved
#17
alzena
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Everything About You
  • Behind the Silence
  • Letters for Self
  • Mon Amour
  • KETIKA LABEL TIDAK LAGI MENENTUKAN SIAPA KITA
  • aku atau dia? || Fenly Un1ty ||
  • Rindu yang berjarak
  • Ruang Kosong di Antara Jingga

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines