Puisi Rindu

Puisi Rindu

  • WpView
    Reads 149
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 17, 2020
Rindu kadang tak mampu terucap namun membuncah di dalam hati. Membuat penanggung rindu kadang harus meringkuk dalam sedih. Yang hanya bisa dilakukan adalah menanti. Menanti tanpa ada jaminan pasti. Hanya pertemuan yang menjadi obat hingga rindu sirna dan hilang dalam satu kedipan mata. Bagi anda para penanggung rindu author siap membahasakan rindu kalian lewat puisi rindu ini. Bagi kalian yang ingin rindunya dipuisikan silahkan komen ya... Jangan lupa follow akun author agar kalian nggak ketinggalan update dari puisi rindu.
All Rights Reserved
#688
puisirindu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • Puisi Romantika Kuno
  • Apa sih Rindu!? [Completed]
  • Setelah Langit Berbisik
  • Kepada sang pencipta rindu
  • Desahan Rindu
  • Nostalgia Cinta Dalam Rindu
  • Goresan Rasa(Puisiku)
  • Secangkir Kopi dan Seutas Rindu [ COMPLETED ]

Aku percaya cinta adalah sebuah pelukan hangat, bahkan di tengah gemuruh hujan. Tapi siapa sangka, pelukan yang sama kini meninggalkan dingin di tubuhku? Kamu meninggalkanku, dan aku tak pernah siap untuk kehilanganmu. Kehilanganmu bukan sekadar perginya seseorang dalam hidupku. Kehilanganmu adalah tentang diriku yang kian merapuh, bagian-bagian dari diriku yang tercerai-berai, seperti serpihan kaca yang tak tahu bagaimana akan kembali utuh. Aku mencoba menulis surat untukmu, berharap kata-kata bisa menggantikan kehadiran yang hilang. Namun, setiap huruf yang kutulis, hanya menambah luka, mengingatkanku pada rindu yang tak akan pernah sampai kepadamu. Mungkin, mencintaimu adalah keindahan sekaligus kutukan. Sebuah hadiah yang diiringi keperihan tanpa akhir. Dan di sinilah aku, yang dalam diam melangitkan namamu. Untukmu, yang kucintai dengan penuh Namun tak pernah menyadari kehadiranku. Buku ini sengaja ditulis untuk nama yang selalu kulangitkan namun enggan untuk menyambutku, yang hadirnya pernah membuat duniaku mekar dengan indah, yang kehilangannya membuat diriku merapuh bersama serpihan luka yang ia tinggalkan. Dan buku ini sekaligus dedikasi untuk mereka yang pernah kehilangan, untuk hati yang berani mencintai meski tahu akan terluka. Karena di balik setiap tetesan air mata, selalu ada cerita yang layak untuk diceritakan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines