KINASIH (Merajut Asa)

KINASIH (Merajut Asa)

  • WpView
    Reads 2,826
  • WpVote
    Votes 115
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 30, 2021
Sebagai anak tertua dari empat bersaudara, Kinasih merupakan tulang punggung keluarga semenjak usaha ayahnya bangkrut. Hidup sederhana dan bekerja keras untuk membantu ibunya yang ditinggalkan banyak utang oleh ayahnya tak menjadikan dia lalai untuk tetap menimba ilmu. Meski lelah yang menyengatnya setiap hari tak mampu menyurutkan semangatnya untuk tetap berangkat ke sekolah. Hingga di saat kelulusannya dari SMA dia dilamar oleh Arya yang menyanggupi untuk melunasi hutang ayahnya. Arya membawanya jauh dari kampung halamannya di lereng Tengger ke Jakarta. Sikap Arya yang manis dan pengertian membuat Kinasih jatuh cinta padanya. Hingga suatu saat dia harus menerima kenyataan bahwa Arya adalah mucikari yang terlibat perdagangan anak dan wanita ke luar negeri. Saat dia mulai memberontak, justru kesucian dirinya lah yang kemudian dilelang. Mampukah Kinasih melepaskan diri dari belenggu Arya dan bangkit mengejar mimpinya?
All Rights Reserved
#6
tengger
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RIMBA MERUN
  • A Life That Turns
  • ZAWIL
  • TRANSMIGRASI ICE GIRL [END]
  • ALLAND
  • Another Soul (Transmigrasi) [END]
  • Aku Rembulan dan Kupu-kupu
  • UMBRELLA

Di sebuah dusun terpencil, tersembunyi di jantung hutan tropis Lampung, berdiri sebuah sekolah bernama Rimba Merun. Di sanalah Bu Mar, seorang guru tua dari kota menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari demi sekolah ini tak di tutup. Bersama dua guru lainnya, ia mengajar segelintir anak dusun yang miskin dan sederhana. Murid-muridnya mayoritas berasal dari keluarga tak mampu. Di dusun itu, kebanyakan orang tak berpendidikan, hidup dari buruh kelapa sawit, dan pertanian seadanya. Sekolah dianggap sia-sia. Namun, para guru tak menyerah begitu saja dalam mendobrak lingkaran setan. Lalu datanglah ancaman. Perusahaan konglomerat sawit mengklaim bahwa tanah sekolah dan hutan di sekitarnya, termasuk dusun Rimba Merun, masuk dalam wilayah konsesi mereka. Pabrik itu akan menggusur tanah mereka. Bu Mar dan guru lainnya tidak tinggal diam. Bersama murid dan sebagian warga yang mulai sadar dan berani, mereka membangun perlawanan. Namun perjuangan tidak mudah. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat terpecah dan merasa tak mampu karena yang mereka hadapi adalah koorporasi raksasa, sedangkan mereka, hanya orang miskin yang punya tanah dengan status warisan turun temurun. Ini adalah kisah tentang sekolah kecil di tengah hutan, tentang harapan guru-guru yang tak berhenti percaya menyalakan api pendidikan, tentang anak-anak yang tak berhenti bermimpi, dan potret masyarakat pedalaman yang bertahan hidup ditengah gempuran ekoonomi. Jika sekolah dan dusun itu hilang, bukan hanya bangunannya yang lenyap, tetapi juga seluruh mimpi mereka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines