Langit dan Atmosfir Putih-Kelabu

Langit dan Atmosfir Putih-Kelabu

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 16, 2020
Saat hidup dihadapkan pada berbagai pilihan dan keterbatasanmu dalam menentukan arah tujuan, maka keharibaan senyum Ayah dan Ibu satu-satunya petunjuk harapan. Meski terkadang hati yang begitu terpaut dengan hasrat dan keinginan senantiasa ingkar. " Sudah 2 hari ini tak sedikitpun rona wajahmu bersinar, coba perhatikan sekitar dinding kamar ini yang tampak muram menyaksikan sendu Ateh yang terus-menerus mendekam. Ateh harus bangkit, setidaknya jika bukan untuk diri sendiri bayangkan bagaimana sebelumnya Ateh pernah mengukir keindahan senyum dipipi Ummu dan Abu. Setelah hadirnya cobaan ini, apakah ingin mengembalikan keindahan itu meraih jalan kebhagiaan bersama ridhonya atau melanjutkan memudar senyuman itu seterusnya. Hidup dalam penyesalan akan lebih membuatmu tersiksa ketimbang bayang-bayang sebuah kegagalan, " tutur Akang dalam rangkulnya, mencoba menggandeng adik permpuan semata wayangnya menuju pengukuhan semangat. Sekujur tubuh yang hanya terbaring kaku dengan dinding pertahanan kerasnya pemikiran mendadak perlahan melunak, kaca-kaca dipelupuk mata seakan terpecah dan tak kuasa membendung rintik air mata. ..........
All Rights Reserved
#12
kegagalan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [✔] Ketujuh Pilar
  • Cerita yang Tak Selesai ✨💔🌙 || TAMAT
  • Secret Brothers [SEVENTEEN]
  • Lautan Fathaz
  • tumbal gadis perwan
  • AKHIR DARI PERJUANGAN (Season 1KISAH CINTA YANG BELUM SELESAI)
  • Bumi Ranah Sagara ~Tamat~
  • [𝟏] 𝐓𝐇𝐄 𝐏𝐎𝐒𝐒𝐄𝐒𝐒𝐈𝐕𝐄 𝐁𝐑𝐎𝐓𝐇𝐄𝐑
  • 𝐀𝐁𝐑𝐄𝐀𝐊𝐒𝐈

"Gimana pendapat Ayah kalau ketujuh pilar ini runtuh?". "Pilar-pilar ini nggak akan runtuh, Ayah merasa hal itu tidak akan pernah terjadi.". Namun nyatanya ungkapan itu salah, karena badai mulai datang tanpa ampun. Angin kencang menyelip di celah kepercayaan, hujan deras meresap ke dinding pertahanan, dan guntur menghantam jiwa yang semakin lelah. Satu per satu pilar itu retak, runtuh dengan gemuruh luka. "Ayah, ucapanmu salah. Kini ketujuh pilar ini mulai roboh.". Penasaran seperti apa ceritanya? Yuk, baca aja!

More details
WpActionLinkContent Guidelines