ABANG | BTS

ABANG | BTS

  • WpView
    Reads 5,693
  • WpVote
    Votes 293
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 26, 2020
Hai, gue Min Rain. Hidup gue tuh beruntung kata cewe-cewe yang liat gue. Kenapa gitu? Karena gue punya 7 saudara yang beuuhhh!! gantengnya kelewatan! Tapi yang bikin gue bingung tuh, mama kuat ya ngandung anak sampe 8 kali tuh, luarrr biasaa!!! Tapi nih gue kasih tau ya, saudara gue tuh sebenernya nggak ada yang bener sifatnya, somplak semua 😢 tapi itu sih biasa mereka tutupin sama kegantengan dan kekecean mereka. Hidup gue dipenuhi kebahagiaan. Walaupun dimata ke 7 Abang, katanya sih banyak sedihnya hehe. Tapi ya gitu deh. Pasti penasaran kan sama kisah hidup gue si anak bungsu dan ketujuh saudara cogan gue? kalo gitu baca aja deh nih cerita. . . . . . . . : Rere_rainn
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • WHY DOES MY BROTHER HATE ME?  [REV] √
  • Mine 🥀 ( Revisi )
  • SEVEN
  • SKOOL LUV AFFAIR
  • Semesta [TERBIT]
  • Tim Julid VS Tim Anti Julid (BTS)
  • My Brother is GANGSTER || BTS ✅
  • LIGHT
  • Manisnya Taehyung (Vkook)
  • Brother BTS

⚠️DALAM TAHAP REVISI ⚠️ [SUDAH TAMAT] FOLLOW TO READ READER!!! Sejak kepergian kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan tragis, kehidupan seorang gadis muda berubah menjadi mimpi buruk. Ia tinggal bersama ketujuh kakaknya-orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan penghibur, namun justru menjadikannya kambing hitam atas kehilangan mereka. Tanpa bukti dan tanpa alasan yang masuk akal, ketujuh kakaknya menuduhnya sebagai penyebab kematian orang tua mereka. Hati yang dulu penuh kasih berubah menjadi bara amarah yang terus membakar, menciptakan jurang dalam keluarga mereka. Gadis itu hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang tak pernah ia pahami, terpenjara oleh luka yang ditinggalkan oleh keluarga sendiri. "Apa salah ku?" ucapnya dengan suara lirih, tak mengerti mengapa ia harus menanggung semua ini. "Oppa, maafkan aku... hiks." "Arghhh! Jangan siksa aku lagi!" teriaknya dalam ketakutan, tubuhnya gemetar setiap kali langkah kaki para kakaknya mendekat. "Oppa... tolong aku... bantu aku... hiks..." "Eomma... Appa... aku rindu... bawa aku pergi... hiks..." Hanya rasa rindu yang menjadi temannya setiap malam. Rindu akan pelukan hangat sang ibu, dan suara tenang sang ayah. Di tengah gelapnya kebencian yang terus membayangi, apakah masih ada secercah harapan untuk gadis kecil itu menemukan cahaya dan kasih yang hilang?

More details
WpActionLinkContent Guidelines