HIJRAHKU BELUM SEMPURNA

HIJRAHKU BELUM SEMPURNA

  • WpView
    Leituras 213
  • WpVote
    Votos 23
  • WpPart
    Capítulos 9
WpMetadataReadEm andamento2h 15m
WpMetadataNoticeÚltima atualização seg, jan 20, 2020
Buku Motivasi untukmu yang sedang menjalani taqorrub dengan Allah Subhanahu Wata'ala. Penulis memberikan bagian-bagian perjalanan hidupnya dan juga Penulis lebih mengembangkan sisi hijrah berdasarkan pemahaman Al-Qur'an dan Hadist Shahih. Didalam buku ini terdapat 10 Chapter yang bisa kalian eksplorasi dan kalian baca untuk menambah sisi spiritualitas kalian ya. Selamat Membaca... ^_^
Todos os Direitos Reservados
#40
religi
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Mutowifku Tersayang
  • Itsnani A [TAHAP REVISI]
  • PENULIS TAKDIR TERBAIK
  • TAKDIR TERINDAH
  • ( EBOOK ) The Heartbreaker Muammar Raid
  • KACA (Iqie Story)
  • 𝐒𝐞𝐛𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐛𝐚𝐝𝐢 | 𝐎𝐆
  • SAKITI AKU! [ ✅ COMPLETED ]
  • INTOXICATING
  • LOVE IS ALIVE IN ME

Prolog Mekkah selalu punya cara membuat hati bergetar. Bukan hanya oleh lantunan adzan yang menggema dari Masjidil Haram, bukan pula oleh jutaan langkah yang berputar mengelilingi Ka'bah tanpa henti. Tapi oleh sesuatu yang tak pernah bisa dijelaskan-takdir yang Allah titipkan di antara doa dan air mata. Namaku Fadhlan. Aku seorang mutowif-memandu para tamu Allah yang datang dari berbagai negeri untuk menunaikan ibadah Umrah. Tugasku sederhana: membimbing mereka membaca niat, menuntun langkah mereka dalam thawaf dan sa'i, serta memastikan perjalanan ibadah itu lancar dan terjaga. Namun, dalam perjalanan yang lalu, tugasku berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Aku masih ingat saat pertama kali menatapnya. Seorang wanita muda, sederhana dalam balutan kerudung putih, tapi wajahnya memancarkan cahaya yang menenangkan. Senyumnya tipis, lembut, seperti doa yang dipanjatkan dalam diam. Ia datang bersama ibunya, meninggalkan ayah yang sedang sakit keras di tanah air. Namanya... Melati. Sembilan hari bersama rombongan Umrah seharusnya hanya meninggalkan kenangan singkat, sebagaimana biasanya. Tapi hari-hari itu menumbuhkan sesuatu yang berbeda. Sebuah perasaan yang anehnya, bukan mengganggu ibadahku, melainkan justru membuat setiap doa terasa lebih hidup. Namun, Allah punya cara sendiri menjaga rahasia-Nya. Ada kalanya doa yang kita panjatkan terasa menggantung di langit, tanpa jawaban. Ada kalanya cinta yang tumbuh justru diuji dengan jarak, waktu, dan keraguan. Dan aku... hanya bisa berserah. Kini setiap kali aku berdiri di hadapan Ka'bah, aku selalu mengingatnya. Wajah itu, senyum itu, doa-doanya. Entah di mana ia berada, entah bagaimana takdir menuliskannya. Yang kutahu, namanya tetap hidup dalam hatiku. Mutowifku tersayang... begitu ia pernah menyebutku dalam candanya. Sebuah panggilan yang sederhana, tapi cukup untuk membuat setiap langkahku terasa berarti.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo