PRAHARA

PRAHARA

  • WpView
    Reads 55
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 21, 2020
"kamu menyesal meninggalkanku, Na?" Abi bertanya dengan nada sendu. Ada semacam kerinduan yang bercokol dipelupuk matanya. Ayuna, mantan tunangannya dulu, diam saja tak bergeming. Sebenarnya ia cukup menyesal atas masa lalu mereka. Tapi apa boleh buat, ia tak bisa menegakkan benang basah. Semuanya telah terjadi. ia tak ingin seperti orang bodoh yang berangan-angan bisa membalikkna waktu. Bagaimanapun, ia masih istri sah Fajar. Meski kini mereka tak lagi hidup serumah, ada semacam tembok besar yang menghalanginya untuk dekat kembali dengan Abi. Apalagi ia sudah punya anak. "Tak usah kau bahas masa lalu lagi, Bi. Semuanya tak ada pengaruh apa-apa bagiku. Sekarang, aku hanya ingin fokus mengurus Safa dan kesehatanku," jawab Ayuna tegas. "Kudengar, Fajar sudah menikah lagi dengan Siwi?" Ayuna terkejut. Seketika ia hendak menjerit keras-keras. Benarkah? Mengapa ia tak tau? Sungguh, rasanya begitu menyakitkan. Kalau boleh ia ingin minta pada Tuhan agar mencabut saja nyawanya sekarang. Tapi dua pasang mata itu, mata putri kecilnya, dan mata lelaki dihadapanya kini memandangnya penuh harap. Sanggupkah ia melukai Abi sekali lagi? Karena mungkin saja, hidupnya tak akan lama lagi. lagi-lagi Ayuna merasakan nyeri yang perlahan merangkak di hatinya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Masa Itu ✔ (Tamat di Karyakarsa)
  • Because I Love You ( TAMAT  )
  • Bad Papa
  • LYVARU
  • Puing luka
  • Ain't Your Daddy (COMPLETED)
  • Naughty Nanny
  • AILAH(END)✅
  • New Destiny
  • Crazy Marriage

"Nggak ada perempuan yang baik yang mau sama pasangan orang!" Teriak Keira menatap sengit ke arah Bagas. "Kei!" Teriak Bagas membalas teriakan Keira. Disini Bagas yang salah, bukan perempuan kecil yang tengah ia gandeng bahkan perempuan kecil itu sekarang ketakutan bersembunyi di belakang tubuh Bagas. "Apa karena pernikahan kita berawal dari perjodohan kamu bisa seenak jidatnya membawa dia pulang?" Tangan Bagas yang bebesa memijat keningnya, ia tahu jika masa lalunya akan terkuak juga. Bagas disini bukan tidak menghargai Keira tapi ia tidak tahu hal apa yang harus ia lakukan. "Pelankan suara kamu Kei. Dia tidak bersalah." Pinta Bagas dengan nada sedikit mengiba. "Lantas kenapa dia ada disini? Kemana jal*ng kamu itu?" Keira sadar saat ia menikahi Bagas, Bagas memang masih memiliki kekasih. Tapi tidak harus membawa ekornya ke dalam pernikahan yang baru menginjak usia empat tahun ini, bukan? "Keira, stop bicara kasar. Lebih baik kamu masuk kamar. Aku mau mengantar Lala ke kamarnya." Putus Bagas dengan melangkah masuk ke dalam kamar yang dulunya ditempati tamu. "Kamu memang kelewatan Mas. Aku sadar jika aku belum bisa memberikan kamu anak, tapi jangan pakai cara seperti ini." Selesai mengatakan itu Keira bergegas ke kamar utama, ia membanting pintu sekerasnya. Langkahnya menyapu ruangan yang banyak memberi kenangan manis dengan Bagas, kedua tangannya mengambil koper dan menyiapkan beberapa barang yang akan ia bawa pulang. Harga dirinya sangat tinggi, jadi saat Bagas membawa anak itu kesini maka dirinyalah yang harus pergi. "Apa-apaan kamu, Kei." Bagas yang selesai menidurkan Lala sontak terperanjat dengan keadaan kamar tidurnya yang sudah seperti kapal pecah. Jangan tanyakan apa yang dilakukan Keira. Melangkah keluar, ia mengusap sisa air matanya. "Aku mau pergi dari sini, dan kamar ini seperti ini sama seperti hatiku."

More details
WpActionLinkContent Guidelines