MENGEJA BAIT LUKA

MENGEJA BAIT LUKA

  • WpView
    Reads 521
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 30, 2020
WpInfo
Poetry
"Kumpulan puisi-puisi" Pelaku luka yang lupa akan raga Perindu raga yang di penuhi ragu Tentang cinta dan luka yang terus tumbuh subur tanpa di basuh Tentang air mata mencari muara Tentang cinta yang enggan binasa walau masa terus memerangi waktu...
All Rights Reserved
#245
diksi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Breathe
  • UNDERTOW || Babymonster-HIATUS
  • Erlangga
  • ROMANSA KATA
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • Sudut Luka Nazea
  • Segala Tentangmu ❝
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
Breathe

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-

More details
WpActionLinkContent Guidelines