DEAR, MILAN

DEAR, MILAN

  • WpView
    Membaca 6
  • WpVote
    Vote 1
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadLengkap Rab, Jan 29, 2020
"Rei, mari kita kawin lari saja," kataku. "Nggak bisa gitu juga, Ken. Aku butuh bapak untuk jadi wali nikahku," jawab Reina dengan suara bergetar. Aku sangat tahu kalau dia berusaha keras menahan tangis. "Ada Mas kamu. Dia merestui hubungan kita. Aku sudah bicara dengannya. Dia mendukung apa pun yang jadi pilihan kita. Dia bisa jadi wali kamu," aku berusaha meyakinkan Reina. "Bapak masih hidup. Bagaimana bisa kita melakukan itu?" "Lalu bagaimana dengan aku, Rei? Bagaimana dengan kita? Kalau aku, aku tidak bisa tanpa kamu. Aku mencintai kamu," kataku dengan suara bergetar. Antara menahan amarah dan keputusasaan. "Nggak bisa, Ken. Nggak boleh. Aku nggak bisa menghianati kedua orangtuaku," jawab Reina. Akhirnya dia menangis, Milan. Tangis yang sangat memilukan. Tangis yang membuat dadaku nyeri dan sakit. Malam itu, kami pulang sendiri-sendiri ke rumah masing-masing. Langit seakan meledek kami. Dia menurunkan hujan yang sangat deras.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#757
putus
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Binar Matahari
  • Love Me, Please! [Sudah Terbit]
  • CARAKU MENDAPATKANMU
  • Dokter Spesialis Mantan [ON GOING]
  • DikaRanggi
  • Love Or Whatnot (FIN)
  • My Sweet heart
  • Side Effect: The Dilemma (END)
  • Langkah Seiring (END+EXTRA PART)

Ari , bukan panggilan untuk lelaki yang orang lain kira, Ari adalah Ari , Binar Matahari. Elang terkekeh , mengacak pelan rambut Ari "Ada peraturan baru" Ari mengerucut "Tuh kan peraturan lagi...." Elang tertawa gemas "Harus nurut pokonya" "Apa kali ini?" "Peraturannya, setelah ini Binar Matahari harus bobo dengan nyenyak, mimpi yang indah, dan jangan lupa bawa aku dimimpi kamu" Ari mematung, mencerna setiap kata dari Elang, hingga ia merasakan benda kenyal yang menyapu bibirnya. Elang menciumnya. Memagut perlahan bibir mungil Ari meskipun tanpa balasan dari sang empu. '''''''''''' Maaf... Jika aku terlalu percaya diri perihal hati. Berfikir bahwa aku adalah duniamu, pun sebaliknya. Ternyata aku salah kaprah, mempercayakan segalanya tanpa ada celah. Sehingga ketika kebenaran terungkap dengan lengkap. Janjiku harus ku tarik dengan sempurna, bahwa saat ini aku harus pergi tanpa tapi. Menjadi senja yang (tak mungkin) meninggalkan luka. Karena memang dihatimu, tak pernah ada aku. Terimakasih karena pernah ada. Meskipun hanya pura-pura. ==========

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan