September, Diakhir Bulan Itu

September, Diakhir Bulan Itu

  • WpView
    LECTURES 334
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Chapitres 7
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mar., févr. 11, 2020
Dalam perjalanan bulan yang tumbuh dimana minggu - minggu, hari - hari, jam - jam, menit - menit, dan detik - detik yang kemudian diuraikan seperti benang kepada kain yang terlanjur tercerai berai menari - nari diantara jari - jari yang mengikat tangannya sendiri. Dalam perjalanan bulan yang mekar dimana minggu - minggu, hari - hari, jam -jam, menit - menit, detik - detik yang kemudian menyerbukkan bunga kepada udara yang melayang layang tersipu tenang yang membelai tangannya sendiri. Dalam perjalan bulan yang layu dimana minggu - minggu, hari - hari, jam - jam, menit - menit, dan detik - detik yang kemudian mati perlahan - lahan seperti kasih antara laki - laki dan perempuan yang telah menanam bulan, menyirami bulan, dan menumbuhkan bulan yang harus kandas diatas tanah tempat bintang - bintang berhamburan.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • DALAM DETAK (SELESAI)
  • FILO-SOFI (Tamat)
  • REGATHAN [END]
  • Dua Tahun Tersulit [END]
  • Surrogate Wife [END]
  • Rain Said
  • KAMU YANG KUSEBUT RUMAH (END-MASIH LENGKAP)
  • Shadows of Love
  • Bersamamu

[ CERITA DIPRIVASI ] Semua orang berlomba bergaya, bekerja, berkomunikasi demi mendapatkan satu rasa yang disebut; Cinta. Hingga lupa pada takdir yang tak selalu menuruti kehendak, sebab ada empunya. Kalau saja cinta selalu seindah bait puisi milik Penyair ternama, mungkin perjuangan benar tak ada artinya. Namun, lagi-lagi, konspirasi alam tak pernah memiliki jadwal. 'Ia' berputar semaunya. Mengitari manusia yang tanpa tahu malu terus berangan. Atau ... justru mendukung mereka para pesimis. Apakah ketika mencintai, kau selalu siap dengan patah hatinya? Hei, kedua hal itu adalah paket wajib yang tak akan bisa kau pilih salah satu. Percayalah, senikmat apa pun cinta yang kaurasa hari ini, kelak alam akan memintanya untuk menghancurkanmu. Menjadi kepingan raga, rasa yang hancur dan kau menderita. Apakah menakutkan? Tidak. Karena manusia selalu merasa dirinya yang terhebat. Berpikir mampu bertahan dalam duka yang teramat. Berangan mampu mengubah cinta menyiksa menjadi bahagia penuh euforia. Bukankah manusia itu makhluk paling serakah? Ia tidak pernah berpikir, kalau segala sesuatu memiliki batas. Kecuali, Sang Pencipta. Maka, beginilah ritmenya; Cinta-->Bahagia-->Jenuh-->Luka-->Mengakhiri/Memperbaiki? Selamat Membaca! Salam, Curious_ Ditulis-Diakhiri: Maret 2017

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu