Story cover for My Memory by iani_p
My Memory
  • WpView
    Reads 541
  • WpVote
    Votes 105
  • WpPart
    Parts 26
  • WpView
    Reads 541
  • WpVote
    Votes 105
  • WpPart
    Parts 26
Ongoing, First published Jan 30, 2020
Tentang kesalahan yang belum terungkap.

"Kemana kamu, saat aku nunggu berjam-jam kayak orang gila di tengah hujan?" Jelas gadis berambut sebahu itu.

"Aku bisa jelasin semuanya."

"Engga perlu ada yang dijelasin, semua udah jelas. Aku benci kamu." 

Gadis itu berlalu meninggalkan laki-laki bermata elang itu sendirian di parkiran.

Rasanya semua berhenti berjalan, seperti hatinya di timpa rutuhan bangunan tua. Sekarang dia akan kehilangan sumber kehangatan, dan perhatian yang tulus sebagai teman.

'Dengarkan sebelum kamu menilai sesuatu hal, jangan ambil kesimpulan tanpa tau dari pihak lain. Karna masalah harus diselesaikan dengan penjelasan dari kedua belah pihak, bukan dari satu pihak.'

Apakah mereka berdua akan kembali seperti sebelumnya?atau menjadi asing kembali?
All Rights Reserved
Sign up to add My Memory to your library and receive updates
or
#119aldo
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 8
Erlangga cover
Ex or New? [REVISI] cover
KANARA : the lost memories cover
Perjodohan paksa || jaemnnie cover
RE:MEMBER (END) cover
PEKAT cover
Forever With You (FWY) cover
ALEYA~~ cover

Erlangga

7 parts Complete

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?