Rasa adalah Tamu

Rasa adalah Tamu

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 31, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"Semua sudah baik adanya.." Berulang kali Zahra mengucap kalimat itu dengan lirih. Sambil berusaha membendung air matanya, ia mencoba menguatkan diri. Menyimpan dengan rapi luka yang baru saja dialaminya. Luka yang kemudian menjadi belenggu dalam hidupnya. Luka yang membuat ia harus pergi dari tanah kelahirannya. "Cintailah orang yang kau cintai sewajarnya saja, karena siapa tau kelak ia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sewajarnya saja, karena siapa tau kelak ia akan menjadi orang yang kau cinta" (Ali bin Abi Thalib) Tanpa sadar, air mata Zahra membasahi secarik kertas di tangannya. Mengapa jadi begini. Tidak pernah terlintas bahwa rasa yang dia yakini akan tetap sama sampai akhir hayat, berubah dalam waktu sekejap. "Ya Rabb, mengapa sangat sulit bagi hamba mengendalikan perasaan ini" (Cerita ini di rekomendasikan untuk seseorang yang belum pernah, hampir dan pernah di perbudak oleh rasa. Baik rasa cinta, rasa suka, rasa benci dan varian rasa yang lainnya) Selamat membaca :)
All Rights Reserved
#84
ceritaislami
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BUKAN PILIHAN KU
  • Mendadak Ning (Selesai)
  • Surat Untuk Takdir [ ON GOING ]
  • Cinta Neng Zulfa
  • Air Mata Cinta
  • imam terbaik ku (tamat) REVISI
  • AKU MENERTAWAKAN LUKAMU? || TAMAT
  • Garis Hati
  • Uhibbuka Fillah Gus [END]

Cinta tak selalu dimenangkan oleh mereka yang saling mencintai tapi cinta itu tentang bagaimana cara kita ikhlas. Di balik cadarnya, Aisyah Humeyrah menyimpan luka yang tak terlihat-dijodohkan dengan pria dari mazhab berbeda, hidup dalam rumah yang sepi meski ada dua orang di dalamnya. Ia masih belum lulus dari pondok, tapi sudah harus menunaikan bakti sebagai istri. Sementara itu, Imam-pemuda yang mencintainya dalam diam-hanya mampu mencintai dari kejauhan, dengan doa yang tak pernah putus. Pernikahan yang awalnya tampak tenang berubah menjadi luka-luka kecil yang terus ditelan Aisyah dalam diam. Mas Hadi, suaminya, semakin sibuk dengan dunia sendiri, memperlakukannya seolah tak lebih dari pelengkap rumah. Di tengah keterasingan itu, Aisyah tetap mengajar, tetap belajar, dan tetap sabar. Tapi sampai kapan kesabaran bertahan jika cinta hanya berjalan satu arah? Ini adalah kisah dua insan yang terpisah oleh takdir, mazhab, dan dinding rumah yang tak memantulkan cinta. Tapi di antara sabar dan ikhlas, mereka belajar satu hal: bahwa mencintai bukan selalu memiliki, tapi mendoakan dalam senyap, hingga langit sendiri yang menjawab.

More details
WpActionLinkContent Guidelines